Kita Tidak Kekurangan Informasi, Kita Kekurangan Kesadaran untuk Mempertanyakannya

Oleh : Achmad Rizal Firdaus 

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Mahasiswa IAI Al-Khairat

HMI Komisariat Al-Khairat

Kita hidup di zaman ketika informasi tidak lagi menjadi sesuatu yang sulit untuk didapatkan. Melalui telepon genggam, seseorang dapat mengetahui peristiwa yang terjadi di berbagai belahan dunia hanya dalam hitungan detik. Berita, video, pendapat, hingga berbagai bentuk pengetahuan terus muncul di hadapan kita setiap hari. Namun, di tengah kelimpahan informasi tersebut, muncul persoalan yang menurut saya justru lebih serius: apakah semakin banyak informasi membuat manusia semakin kritis? Menurut saya, belum tentu. Kita mungkin tidak lagi kekurangan informasi, tetapi justru mulai kekurangan kesadaran untuk mempertanyakan informasi yang kita terima.

Fenomena ini dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah informasi yang viral sering kali langsung dianggap sebagai kebenaran hanya karena banyak orang membicarakannya. Judul berita dibaca tanpa memahami isi, potongan video dianggap sebagai gambaran keseluruhan peristiwa, dan pendapat seseorang dapat berubah menjadi “kebenaran” hanya karena mendapatkan banyak dukungan. Yang lebih mengkhawatirkan, seseorang terkadang hanya mencari informasi yang sesuai dengan keyakinannya sendiri. Ketika menemukan informasi yang berbeda, informasi tersebut langsung dianggap salah tanpa terlebih dahulu diperiksa. Pada titik inilah informasi yang seharusnya menjadi alat untuk memahami realitas justru dapat berubah menjadi alat untuk membentuk persepsi.

Pemikiran Paulo Freire mengenai *critical consciousness* atau kesadaran kritis menjadi sangat relevan dalam kondisi tersebut. Bagi Freire, manusia tidak seharusnya hanya menerima realitas sebagaimana adanya, tetapi harus mampu membaca, memahami, dan mempertanyakan realitas tersebut. Artinya, ketika kita menerima sebuah informasi, tugas kita bukan berhenti pada mengetahui apa yang terjadi, tetapi juga berusaha memahami mengapa hal itu terjadi, bagaimana informasi tersebut dibentuk, siapa yang menyampaikannya, serta kepentingan apa yang mungkin berada di baliknya. Kesadaran seperti inilah yang membedakan antara seseorang yang sekadar menerima informasi dengan seseorang yang benar-benar berpikir.

Persoalan tersebut juga dapat dilihat melalui teori *framing* yang diperkenalkan Erving Goffman. Sebuah peristiwa pada dasarnya dapat disajikan melalui berbagai sudut pandang. Peristiwa yang sama dapat terlihat berbeda ketika dikemas dengan pilihan kata, gambar, narasi, dan penekanan yang berbeda. Misalnya, sebuah aksi mahasiswa dapat diberitakan sebagai bentuk keberanian menyampaikan aspirasi, tetapi pada sisi lain dapat diberitakan sebagai gangguan terhadap ketertiban. Peristiwanya sama, tetapi bingkai yang digunakan berbeda. Karena itu, masyarakat tidak cukup hanya membaca apa yang diberitakan, tetapi juga perlu memahami bagaimana suatu peristiwa tersebut dibingkai.

Hal ini menjadi semakin kompleks ketika kita hidup dalam ekosistem media sosial yang bekerja berdasarkan perhatian. Konten yang memancing emosi, kontroversi, kemarahan, atau rasa penasaran cenderung lebih mudah mendapatkan perhatian. Akibatnya, sesuatu yang viral sering kali dianggap lebih penting daripada sesuatu yang benar-benar penting. Dalam konteks ini, gagasan Noam Chomsky dan Edward Herman mengenai *Manufacturing Consent* juga menarik untuk digunakan sebagai perspektif. Mereka menunjukkan bagaimana pembentukan opini publik dapat dipengaruhi melalui mekanisme pemilihan dan penyajian informasi. Dengan demikian, pengaruh terhadap masyarakat tidak selalu hadir dalam bentuk paksaan, tetapi dapat muncul melalui informasi yang terus-menerus kita konsumsi.

Menurut saya, persoalan ini menjadi sangat penting bagi mahasiswa. Mahasiswa seharusnya tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga menjadi kelompok intelektual yang mampu menguji informasi sebelum mengambil sikap. Berpikir kritis bukan berarti selalu menolak pemerintah, selalu membantah pendapat orang lain, atau selalu mencari kesalahan. Berpikir kritis berarti memiliki keberanian untuk memeriksa sesuatu secara rasional sebelum menerimanya sebagai kebenaran. Kritik yang baik bukan lahir dari kebencian, melainkan dari kepedulian dan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pada akhirnya, tantangan generasi kita bukan lagi bagaimana memperoleh informasi, karena informasi sudah tersedia hampir tanpa batas. Tantangan yang jauh lebih besar adalah bagaimana mempertahankan kemampuan berpikir di tengah derasnya arus informasi. Jangan sampai kita menjadi generasi yang mengetahui banyak hal tetapi memahami sedikit, atau menjadi generasi yang cepat berkomentar tetapi lambat melakukan verifikasi. Sebab informasi hanya membuat kita tahu, pengetahuan membuat kita memahami, sedangkan kesadaran kritis membuat kita mampu menentukan sikap. Bagi saya, inilah salah satu tanggung jawab mahasiswa hari ini: bukan sekadar menjadi manusia yang paling cepat mengetahui sesuatu, tetapi menjadi manusia yang paling mampu mempertanyakan sesuatu sebelum mempercayainya.

Iklan Ekspos

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *