Oleh : Munher
Mahasiswa Islam IAI Al-Khairat Pamekasan
Ketika mahasiswa mengkritik dosen, apakah ia sedang menggunakan kebebasan akademik atau dianggap tidak menghormati otoritas? Sebaliknya, ketika dosen menetapkan aturan dan memberikan penilaian, apakah hal tersebut merupakan bagian dari otoritas akademik atau dapat berubah menjadi pembatasan terhadap mahasiswa? Pertanyaan ini penting karena hubungan mahasiswa dan dosen bukan hanya tentang proses belajar mengajar, tetapi juga menyangkut kebebasan, kewenangan, tanggung jawab, dan etika.
Perguruan tinggi merupakan ruang akademik yang mempertemukan mahasiswa dan dosen dengan posisi, hak, kewenangan, dan tanggung jawab yang berbeda. Dosen memiliki otoritas untuk mengajar, membimbing, mengarahkan, mengevaluasi, dan menilai. Sementara itu, mahasiswa memiliki ruang untuk bertanya, berdiskusi, menyampaikan pendapat, mengkritisi gagasan, dan mengembangkan pemikirannya. Perbedaan tersebut merupakan sesuatu yang wajar. Persoalan muncul ketika perbedaan posisi dipahami secara berlebihan, sehingga kebebasan mahasiswa dianggap sebagai ancaman terhadap otoritas dosen, atau otoritas dosen dipahami sebagai alasan untuk membatasi kebebasan mahasiswa. Menjadi mahasiswa bukan hanya tentang menerima materi dari dosen. Mahasiswa merupakan bagian dari komunitas akademik yang perlu belajar berpikir kritis, menguji gagasan, berdiskusi, dan menyampaikan pendapat. Karena itu, mahasiswa tidak harus selalu menerima suatu pendapat hanya karena disampaikan oleh dosen. Perbedaan pandangan justru dapat menjadi bagian dari proses pengembangan pengetahuan. Namun, kebebasan akademik bukan berarti kebebasan tanpa batas. Mahasiswa bebas bertanya, tetapi bukan berarti bebas menghina. Mahasiswa bebas mengkritik, tetapi bukan berarti bebas menyerang pribadi. Mahasiswa bebas berbeda pendapat, tetapi tetap perlu menghormati aturan dan etika akademik. Kebebasan harus berjalan bersama tanggung jawab. Di sisi lain, dosen memiliki otoritas yang diperlukan agar proses pendidikan memiliki arah dan struktur. Kewenangan untuk mengatur pembelajaran, memberikan arahan, mengevaluasi tugas, dan melakukan penilaian merupakan bagian dari tanggung jawab dosen. Namun, otoritas tidak sama dengan dominasi. Otoritas digunakan untuk menjalankan tanggung jawab pendidikan, sedangkan dominasi dapat terjadi ketika kewenangan digunakan secara berlebihan untuk mengendalikan atau membatasi pihak lain.
Persoalan menjadi lebih serius ketika kritik mahasiswa tidak lagi dipahami sebagai bagian dari proses akademik, melainkan dianggap sebagai ancaman terhadap kewibawaan dosen. Perbedaan pendapat yang seharusnya dapat dibicarakan secara ilmiah dapat berubah menjadi persoalan personal. Dalam kondisi seperti ini, terdapat risiko bahwa ketidaksukaan terhadap kritik dibawa ke dalam hubungan akademik, misalnya melalui tekanan, perlakuan yang tidak adil, atau penggunaan kewenangan akademik untuk memberikan konsekuensi kepada mahasiswa. Karena dosen memiliki kewenangan dalam proses evaluasi dan penilaian, batas antara penggunaan otoritas untuk mendidik dan penggunaan otoritas untuk menekan mahasiswa menjadi penting untuk dipahami. Namun, persoalan ini tidak berarti bahwa setiap kritik mahasiswa pasti benar atau setiap tindakan dosen yang tegas merupakan bentuk penyalahgunaan otoritas. Mahasiswa juga dapat melakukan kesalahan ketika menyampaikan kritik tanpa dasar, menggunakan bahasa yang tidak etis, atau menjadikan kebebasan akademik sebagai alasan untuk mengabaikan aturan. Karena itu, persoalannya bukan sekadar siapa yang salah, melainkan bagaimana kebebasan dan otoritas digunakan sesuai dengan fungsi dan batasnya.
Tidak setiap kritik merupakan pembangkangan dan tidak setiap aturan merupakan pengekangan. Kritik merupakan upaya untuk menguji, mempertanyakan, atau memberikan sudut pandang lain terhadap suatu gagasan, kebijakan, atau praktik. Sementara itu, pembangkangan berkaitan dengan penolakan terhadap aturan atau tanggung jawab tanpa dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Begitu pula dengan otoritas dan dominasi. Otoritas berkaitan dengan tanggung jawab dan fungsi dalam institusi, sedangkan dominasi muncul ketika kewenangan digunakan secara berlebihan untuk mengendalikan pihak lain. Karena itu, mahasiswa dan dosen perlu memahami posisi masing masing. Mahasiswa memiliki kebebasan untuk berpikir, bertanya, dan mengkritik, tetapi kebebasan tersebut harus disertai argumentasi, relevansi, dan etika. Dosen memiliki otoritas dalam proses pendidikan, tetapi otoritas tersebut perlu dijalankan secara profesional, dan terbuka terhadap dialog. Kritik mahasiswa tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman terhadap otoritas dosen, sebagaimana otoritas dosen tidak seharusnya digunakan sebagai alat untuk membungkam kritik mahasiswa.
Relasi akademik yang sehat bukanlah relasi yang menghilangkan otoritas dosen ataupun memberikan kebebasan tanpa batas kepada mahasiswa. Yang dibutuhkan adalah keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab. Mahasiswa tidak perlu kehilangan keberanian untuk bertanya hanya karena berhadapan dengan dosen. Dosen juga tidak perlu kehilangan otoritas hanya karena memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan kritik.
Pada akhirnya, persoalan relasi mahasiswa dan dosen bukan sematamata tentang siapa yang benar atau siapa yang salah. Yang lebih penting adalah bagaimana keduanya memahami hak, kewenangan, batas, dan tanggung jawab masing masing. Mahasiswa perlu menggunakan kebebasannya secara bertanggung jawab, sementara dosen perlu menggunakan otoritasnya secara profesional dan tidak mencampurkan persoalan pribadi dengan kewenangan akademik. Kampus seharusnya menjadi ruang tempat kebebasan dan otoritas bertemu dalam dialog. Mahasiswa dapat mengkritik tanpa kehilangan etika, sementara dosen dapat menjalankan otoritas tanpa menutup ruang kritik. Kebebasan mahasiswa bukan untuk meniadakan otoritas dosen, sebagaimana otoritas dosen bukan untuk meniadakan kebebasan mahasiswa. Dengan memahami batas masing masing, perbedaan tidak harus berubah menjadi konflik, tetapi dapat menjadi bagian dari proses akademik yang terbuka, kritis, sehat, dan bertanggung jawab.