Ekspos.id, Jakarta — Sosok dermawan asal Madura, Haji Her, kembali menjadi sorotan publik nasional setelah berhasil meraih CNN Indonesia Award 2025 dalam kategori Kepedulian Sosial Terhadap Rakyat. Penghargaan bergengsi ini diberikan atas dedikasi dan konsistensinya dalam membantu masyarakat kecil melalui berbagai program sosial dan kemanusiaan yang ia gagas selama beberapa tahun terakhir.
Acara penganugerahan tersebut digelar megah di Jakarta Convention Center pada Kamis malam (30/10/2025) dan dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional, pejabat pemerintahan, serta figur publik dari berbagai bidang. Dalam kesempatan itu, Haji Her tampil sederhana dengan mengenakan busana khas Madura, sarung dan jas hitam, yang menjadi ciri khasnya dalam berbagai kegiatan sosial.
Dalam sambutannya setelah menerima penghargaan, Haji Her menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah mendukung perjuangannya.
“Penghargaan ini bukan untuk saya pribadi, tetapi untuk rakyat yang setiap hari berjuang mencari kehidupan yang lebih baik. Kepedulian sosial bukan tentang seberapa banyak kita memberi, tetapi seberapa tulus kita berbagi,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Haji Her dikenal luas di kalangan masyarakat Madura dan Jawa Timur sebagai tokoh sosok dermawan yang tak pernah lelah turun langsung ke lapangan membantu warga yang membutuhkan. Dari program bantuan rumah layak huni, pembagian sembako, hingga beasiswa untuk anak yatim dan santri berprestasi, semuanya dilakukan tanpa pamrih dan tanpa gembar-gembor politik.
Selama pandemi COVID-19, ia juga menjadi salah satu donatur terbesar untuk penyediaan oksigen gratis dan bantuan makanan bagi warga terdampak. Bahkan, beberapa rumah sakit di Pamekasan dan Sumenep mengakui kontribusi Haji Her dalam penyediaan alat medis darurat ketika krisis melanda.
“Beliau itu sosok yang sangat rendah hati, tidak pernah ingin disebut pahlawan, padahal apa yang beliau lakukan jauh lebih besar dari sekadar bantuan materi,” ungkap salah satu tokoh masyarakat Pamekasan, KH. Ahmad Sahal, yang turut hadir memberikan dukungan.
CNN Indonesia menilai, penghargaan ini diberikan bukan semata karena besarnya sumbangan yang diberikan, tetapi karena komitmen berkelanjutan Haji Her dalam memberdayakan masyarakat dari bawah. Ia mendorong warga untuk tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga belajar mandiri melalui pelatihan usaha kecil dan pembinaan keterampilan.
Program yang paling dikenal adalah “Gerakan Rakyat Mandiri”, di mana Haji Her menggandeng ratusan pemuda desa untuk belajar mengelola usaha mikro seperti pertanian organik, perbengkelan, dan industri rumahan. Program ini terbukti membantu menekan angka pengangguran di beberapa kecamatan di Madura.
“Saya ingin rakyat Madura berdiri di atas kaki sendiri. Bantuan boleh sesekali, tapi kemandirian harus jadi budaya,” tegas Haji Her dalam wawancara khusus usai menerima penghargaan.
Dari Madura untuk Indonesia
Kiprah sosial Haji Her kini tidak hanya dikenal di Madura, tapi juga di berbagai daerah Indonesia. Ia sering diundang menjadi pembicara dalam forum-forum nasional terkait pemberdayaan masyarakat dan ekonomi kerakyatan. CNN Indonesia menilai bahwa semangat sosialnya merupakan representasi dari nilai-nilai luhur bangsa: gotong royong, empati, dan solidaritas.
Dengan penghargaan CNN Indonesia Award 2025, nama Haji Her kini sejajar dengan para tokoh nasional yang telah berkontribusi besar bagi kemanusiaan dan pembangunan sosial di tanah air. Namun, bagi dirinya, penghargaan hanyalah bonus dari sebuah perjuangan panjang.
“Selama masih ada rakyat yang susah, tugas kita belum selesai,” ujarnya dengan tegas.
Penghargaan ini menjadi bukti bahwa ketulusan dan kepedulian sejati akan selalu mendapat tempat di hati rakyat dan pengakuan dari bangsa. Sosok seperti Haji Her menjadi inspirasi bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil, dari desa, dari hati yang tulus untuk membantu sesama.
CNN Indonesia menobatkannya sebagai simbol harapan baru, bahwa kepedulian sosial bukan sekadar wacana, tetapi tindakan nyata untuk membangun Indonesia yang lebih manusiawi dan berkeadilan. (rina/red)
