Oleh : Firman Syah Ali
Dalam narasi sejarah dunia, kebesaran bangsa-bangsa sering kali diukur melalui derap langkah kaki serdadu dan luasnya wilayah taklukan. Kita mengenal Kekaisaran Mongol yang menyapu daratan Asia, bangsa Arab yang menyatukan wilayah lintas benua, hingga bangsa-bangsa Eropa yang membagi dunia dalam peta kolonialisme lintas samudera. Sejarawan Persia, Rashid al-Din dalam Jami’ al-tawarikh menulis statemen Genghis Khan yang sangat terkenal sebagai berikut :
”Kebahagiaan terbesar adalah mengalahkan musuh-musuhmu, mengejar mereka di depanmu, merampas kekayaan mereka, melihat orang-orang yang mereka cintai mandi air mata, serta memeluk istri dan putri-putri mereka ke dalam dekapanmu.” Namun, jika kita menengok ke dalam sejarah bangsa sendiri, maka tampil wajah yang jauh berbeda. Wajah kita kompromis, tenang, dan defensif, tidak agresif. Tidak haus darah.
Sejarah Tanpa Penaklukan Global.
Secara historis, nenek moyang kita (austro melanesia) bukanlah bangsa penakluk yang mencari kejayaan dengan menghancurkan bangsa lain. Jika kita bandingkan dengan bangsa Eropa, Timur Tengah, Turki atau Mongol yang memiliki struktur militer ofensif, kerajaan-kerajaan besar di Nusantara seperti Majapahit atau Sriwijaya lebih memfokuskan diri pada hegemoni maritim internal dan pengamanan jalur perdagangan.
Sumpah Palapa Gajah Mada, misalnya, sering disalahpahami sebagai misi imperialistik ala Romawi. Padahal, jika dibedah lebih dalam, itu adalah upaya penyatuan untuk menjaga stabilitas jalur niaga dari intervensi asing, bukan keinginan untuk memusnahkan identitas lokal. Makanya di bawah imperium majapahit, tidak ada identitas lokal yang hilang.
Jarang sekali kita menemukan catatan sejarah di mana armada Nusantara berlayar ribuan mil hanya untuk menjajah dan mengeruk sumber daya bangsa di benua lain. Karena bangsa kita sudah makmur, tidak perlu berlayar jauh-jauh menemukan benua Amerika misalnya. Nusantara dulu bernama India, tepatnya India Timur. India Timur adalah pusat rempah-rempah dan kekayaan alam lainnya yang dicari-cari oleh bangsa eropa, tapi mereka malah mendarat di benua Amerika, oleh karena itulah penduduk pribumi yang mereka temui disebut Indian, sebab mereka mengira diri mereka sudah mendarat di India Timur alias nusantara.
Mengapa Kita Jarang Berperang?
Statistik konflik di Nusantara jauh lebih rendah dibandingkan dengan sejarah berdarah di Eropa—yang selama berabad-abad terkunci dalam perang agama dan perebutan wilayah (seperti Perang Seratus Tahun). Ada beberapa alasan fundamental di balik itu.
Pertama, Kelimpahan Sumber Daya Alam (SDA). Bangsa kita tidak perlu menyerang tetangga hanya untuk mencari makan. Alam yang subur menciptakan mentalitas “cukup” dan rasa syukur. Berbeda jauh dengan bangsa Eropa dan Turko-mongolic yang terhimpit oleh kondisi alamnya yang miskin Sumber Daya, berselimut salju, serta Bangsa-bangsa timur tengah yang kepanasan di gurun luas, sehingga harus melalukan ekspansi ke luar untuk liebensraum.
Kedua, Filosofi Kosmologis. Masyarakat tradisional nusantara melihat dunia sebagai satu kesatuan yang harus seimbang. Konflik fisik dianggap merusak tatanan semesta. Makanya jarang sekali terjadi perang dalam sejarah bangsa kita. Kalaupun ada perang, hanya perang antar elit istana untuk merebut tahta. Setidaknya hanya ada empat perang besar dalam sejarah kita, yaitu Perang Trunojoyo, Perang Diponegoro, perang mempertahankan kemerdekaan RI 1945-1947 dan tragedi nasional 1966.
Ketiga, Budaya Musyawarah dan Kompromi. Mekanisme penyelesaian masalah di Nusantara selalu mengedepankan pembicaraan di bawah “pohon beringin” atau di balai desa daripada penyelesaian di medan laga. Kekeluargaan dan gotong royong dikedepankan. Rencana perang dahsyat selalu berakhir di meja musyawarah sebelum peperangan itu dimulai. Saling memaafkan menjadi rutinitas resolusi konflik dalam sejarah bangsa kita. Lihat saja Piagam Manjusrigrha (792 M), salah satu bukti tertua kompromi politik antara wangsa syailendra dengan wangsa Sanjaya, alih-alih saling memusnahkan dalam perang saudara yang berkepanjangan, mereka memilih rekonsiliasi, asimilasi dan kolaborasi konstruktif, sehingga candi borobudur dan prambanan berdampingan dengan damai.
Kitab Negarakretagama juga menggambarkan bahwa majapahit adalah pusat koordinasi regional (mandala), bukan imperium sentralistik yang kejam. Kebanyakan kerajaan-kerajaan bawahan masuk menjadi wilayah Majapahit melalui diplomasi bukan melalui aneksasi militer. Sikap diplomasi Indonesia di panggung dunia yang sering kali memilih jalan tengah dan enggan memihak dalam blok militer bukanlah sebuah “kegagapan politik.” Itu adalah refleksi genetik dari sebuah bangsa yang selama ribuan tahun lebih memilih hidup dalam harmoni daripada mati dalam kebencian.
Kita bukan bangsa patriotik yang mencari musuh untuk membuktikan keberanian; kita adalah bangsa yang menganggap keberanian tertinggi adalah kemampuan untuk menjaga perdamaian.
Sikap Indonesia yang sering dianggap “kurang tegas” atau terlalu berhati-hati dalam konflik internasional saat ini sebenarnya bukanlah tanda kelemahan. Sebaliknya, itu adalah manifestasi jujur dari jati diri bangsa yang kompromis, yang didorong oleh kekayaan alam luar biasa (zona nyaman).
Kesimpulan:
Jiwa bangsa kita bukan terletak pada heroisme patriotik yang agresif, melainkan pada kemampuan untuk merajut harmoni. Bagi Indonesia, kemenangan sejati bukan dicapai saat lawan tersungkur, melainkan saat keseimbangan kembali tercipta tanpa ada darah yang tumpah. Indonesia tidak lahir dari ambisi untuk menguasai, tapi dari keinginan untuk hidup berdampingan dalam harmoni.
Penulis adalah Pengurus Pusat Asosiasi Dosen Pergerakan (ADP) dan Pengurus Pusat Presidium Majelis Alumni IPNU
