Ketika Nama Koruptor di Dahulukan, Hukum Ditinggalkan

Oleh: ekspos.id 14/06/2026

(Viralitas, Persepsi, dan Pergeseran Cara Publik Memahami Keadilan)

Oleh: Dr. Adi Suparto, SH., MH.

Di tengah situasi yang sedang mengguncang, publik disuguhi daftar nama yang beredar cepat, masif, dan seolah meyakinkan.

Nama-nama itu hadir lebih dulu daripada penjelasan. Diedarkan lebih luas daripada klarifikasi. Dan dipercaya lebih cepat daripada proses hukum.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak.

Hukum tidak pernah bekerja dengan cara seperti ini.

Ia tidak lahir dari daftar yang viral, melainkan dari prosedur yang dapat diuji. Dari alat bukti yang sah. Dari mekanisme yang memastikan bahwa tuduhan tidak berubah menjadi vonis tanpa proses.

Ketika nama didahulukan, yang sesungguhnya sedang disingkirkan adalah hukum itu sendiri.

Fenomena ini tidak berdiri di ruang kosong.

Dalam lanskap komunikasi hari ini, informasi tidak selalu hadir sebagai fakta. Ia bisa dirancang, disusun, dan disebarkan untuk membentuk cara publik melihat sebuah peristiwa.

Daftar nama menjadi efektif bukan karena kebenarannya, tetapi karena pengulangannya.

Ia bekerja diam-diam: menggeser fokus, mengarahkan emosi, dan pada akhirnya, membentuk keyakinan.

Di titik tertentu, publik tidak lagi bertanya “apa buktinya?”

melainkan “siapa saja yang disebut?”

Di situlah pergeseran itu terjadi.

– Keadilan tidak lagi ditunggu dari proses, tetapi diputuskan oleh persepsi.

– Dan persepsi, seperti kita tahu, bisa dibentuk. Inilah yang membuat situasi ini berbahaya.

Bukan semata karena kemungkinan ada informasi yang keliru, tetapi karena kita sedang didorong untuk menerima cara berpikir yang keliru.

Bahwa menyebut sama dengan membuktikan. Bahwa viral sama dengan benar. Bahwa ramai sama dengan sah.

Jika cara berpikir ini dibiarkan, maka kita tidak hanya kehilangan kehati-hatian, kita kehilangan fondasi keadilan itu sendiri.

Dan ketika itu terjadi, batas antara benar dan salah tidak lagi ditentukan oleh hukum,melainkan oleh siapa yang lebih dulu menguasai ruang publik.

Di titik itu, keadilan tidak runtuh secara tiba-tiba. Ia runtuh dimulai dari satu daftar, yang dipercaya tanpa pernah diuji.