Kongres Kebudayaan Nusantara Di Malang, Menguatkan Jati Diri Bangsa Mewujudkan Indonesia Emas 2045
Ekspos.id, Malang, — Di tengah derasnya perubahan zaman, upaya mengingat kembali akar sejarah dan kebudayaan Nusantara menjadi semakin penting. Bukan untuk terjebak dalam romantisme masa lalu, melainkan untuk memastikan identitas bangsa tetap memiliki pijakan yang kuat.
Pesan itu mengemuka dalam Kongres Kebudayaan Nusantara bertema “Sarasehan Kebudayaan dan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam rangka Menggali Jejak-Jejak Peradaban Kebudayaan Nusantara” yang berlangsung di Pendopo Agung Kabupaten Malang, Sabtu (8/8/2026).
Pertemuan tersebut mempertemukan berbagai unsur, mulai dari pelaku dan pemerhati kebudayaan, penghayat kepercayaan, budayawan, tokoh masyarakat hingga sejumlah pejabat dan undangan. Forum ini menjadi ruang untuk kembali membicarakan perjalanan panjang peradaban Nusantara sekaligus melihat bagaimana warisan tersebut dapat terus hidup di tengah masyarakat modern.
Salah satu gagasan yang mengemuka dalam kongres adalah pentingnya bangsa Indonesia membuka kembali ingatan terhadap sejarahnya sendiri.
Dr. Ir. Hadi Prajoko, SH., MH., menegaskan bahwa menggali sejarah dan kebudayaan Nusantara bukan sekadar upaya mengenang masa lalu. Menurutnya, langkah tersebut berkaitan erat dengan upaya memastikan bangsa Indonesia tetap mengetahui akar identitasnya.
“Kongres budaya ini bukan euforia kerinduan masa lampau, tetapi kita sedang memastikan apakah kita sedang berpijak di tanah kita sendiri. Marilah kita membuka kembali memori, jejak-jejak sejarah dan budaya agar kita tidak menjadi bangsa amnesia,” ujarnya.
Pemikiran tersebut menjadi semakin relevan ketika perkembangan teknologi dan arus informasi bergerak begitu cepat. Generasi muda menghadapi perubahan budaya yang berlangsung hampir tanpa batas, sementara sebagian warisan lokal justru berhadapan dengan risiko semakin ditinggalkan.
Padahal, peradaban Nusantara tidak lahir secara tiba-tiba. Jauh sebelum Indonesia berdiri sebagai negara, berbagai wilayah di Nusantara telah memiliki sistem nilai, pengetahuan, tata kehidupan, seni, tradisi, filosofi hingga kearifan yang berkembang dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Warisan itu pun tidak seluruhnya berbentuk peninggalan fisik seperti prasasti, candi, manuskrip dan artefak. Banyak di antaranya masih hidup melalui bahasa daerah, kesenian, tradisi masyarakat, ritual adat, sistem pengetahuan lokal, gotong royong hingga nilai spiritual yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Kabupaten Malang menjadi salah satu wilayah yang memiliki jejak panjang perjalanan tersebut. Sejarah Kanjuruhan dan Singhasari, misalnya, menjadi bagian penting dari rangkaian peradaban yang pernah berkembang di kawasan Malang Raya.
Di tengah masyarakat, warisan itu juga dapat ditemui dalam berbagai kesenian dan tradisi seperti Topeng Malangan, jaranan, bantengan serta beragam ritual dan kearifan lokal yang masih dipertahankan hingga kini.
Kekayaan tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan bukan sekadar benda peninggalan masa lalu. Kebudayaan merupakan identitas yang terus bergerak, berkembang dan diwariskan.
Sekretaris Daerah Kabupaten Malang, Dr. Ir. Budiar, M.Si., yang hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan kongres. Ia menilai forum semacam ini penting untuk memperkuat kesadaran bersama dalam menjaga keberagaman sekaligus merawat ingatan kolektif bangsa.
Menurutnya, pembangunan bangsa tidak cukup hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur maupun kemajuan teknologi. Pembangunan manusia dan kebudayaan juga menjadi bagian penting dalam menentukan arah masa depan Indonesia.
“Bangsa yang kehilangan budayanya akan kehilangan arah. Bangsa yang lupa sejarahnya akan mudah kehilangan identitas,” tegasnya.
Karena itu, kebudayaan perlu ditempatkan sebagai bagian dari pembangunan jangka panjang. Terlebih, Indonesia tengah mempersiapkan diri menuju visi Indonesia Emas 2045. (Nng)