Peradaban Digital dan Krisis Nilai: Apakah Kita Sedang Kehilangan Arah?

Oleh: ekspos.id 24/06/2026

Oleh: Noris soleh

Mahasiswa Pascasarjana IAI AL-KHAIRAT Pamekasan

Umat ​​manusia telah memasuki peradaban baru yang serba cepat, instan, dan terhubung sepenuhnya berkat kemajuan teknologi digital. Komunikasi menjadi sederhana, informasi bergerak cepat, dan berbagai tugas sehari-hari dapat diselesaikan hanya dengan sentuhan jari. Namun di balik kemajuan ini, muncul pertanyaan mendasar: apakah kemajuan ini sejalan dengan perkembangan moralitas dan nilai-nilai manusia? Atau apakah kita benar-benar sedang mengalami krisis dalam cara hidup kita?

Dari sudut pandang Islam, kualitas moral manusia dan kedekatannya dengan nilai-nilai surgawi merupakan indikator kemajuan sejati yang lebih penting daripada kemajuan teknologi. Islam memandang manusia memiliki hati (spiritualitas) dan akal (rasionalitas). Ketidaksetaraan muncul dalam kehidupan manusia ketika peradaban digital memprioritaskan efisiensi dan penalaran sambil mengabaikan aspek spiritual dan etika. Inilah yang mulai terlihat: orang-orang menjadi lebih pintar, tetapi belum tentu lebih bijaksana.

Salah satu industri yang paling terdampak oleh pergeseran ini adalah pendidikan. Cara kita mendidik, belajar, dan bahkan berpikir telah berubah sebagai akibat dari digitalisasi. Ketersediaan informasi telah meningkat, tetapi ada juga kekurangannya, seperti penurunan literasi kritis, kecenderungan untuk bergantung pada teknologi tanpa berpikir, dan pengurangan kedalaman pemikiran. Hal ini konsisten dengan penelitian Neil Postman, yang memperingatkan bahwa teknologi berpotensi mengubah persepsi orang tentang realitas.

Tujuan utama pendidikan Islam adalah menciptakan manusia dengan akhlak mulia di samping kecerdasan intelektual. Gagasan tarbiyah menyoroti bagaimana hati, pikiran, dan perilaku manusia berkembang secara holistik. Namun, cita-cita ini sering diabaikan di dunia digital saat ini. Alih-alih memahami proses dan signifikansinya, siswa lebih fokus pada pencapaian hasil yang cepat dan instan. Guru harus memutuskan apakah akan mempertahankan cita-cita pendidikan inti atau mengikuti perkembangan teknologi. Filsafat Syed Muhammad Naquib al-Attas menyoroti bahwa pendidikan sejati melibatkan pengajaran adab daripada sekadar menyampaikan fakta.

Pola interaksi sosial manusia juga telah berubah secara signifikan sebagai akibat dari peradaban digital. Media sosial, yang seharusnya menjadi alat untuk koneksi sosial, seringkali berfungsi sebagai katalisator konflik, penyebaran informasi palsu, dan bahkan kemerosotan etika komunikasi. Saling menghina, kurangnya empati, dan kemerosotan etiket antarpribadi adalah indikator yang jelas bahwa ada sesuatu yang kurang dalam masyarakat kontemporer. Teknologi digital dapat membuat orang “terhubung tetapi kesepian,” merampas kekayaan koneksi sosial yang nyata, menurut analisis Sherry Turkle.

Ketidakseimbangan antara perkembangan moral dan kemajuan teknologi inilah yang menyebabkan krisis nilai ini, yang tidak terjadi dalam semalam. Kita terlalu banyak menghabiskan waktu untuk memikirkan “bagaimana membuat hidup lebih mudah,” tetapi kita mengabaikan untuk mempertimbangkan “apa tujuan dari kemudahan itu?” Oleh karena itu, teknologi yang seharusnya menjadi alat justru memiliki kapasitas untuk menundukkan manusia. Dalam hal ini, Klaus Schwab mengingatkan kita bahwa untuk menghindari gejolak sosial yang signifikan, kemajuan teknologi harus diimbangi dengan prinsip-prinsip kemanusiaan melalui gagasan Revolusi Industri 4.0.

Untuk menjaga peradaban digital tetap sejalan dengan cita-cita Islam dan kemanusiaan, diperlukan upaya yang signifikan. Sekali lagi, pendidikan harus memprioritaskan karakter daripada melihatnya sebagai tambahan. Untuk memastikan bahwa siswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi tetapi juga mampu menggunakannya secara bijaksana dan bertanggung jawab, integrasi teknologi dan nilai-nilai Islam perlu ditingkatkan.

Pada akhirnya, peradaban digital harus diarahkan, bukan dikutuk. Teknologi bukanlah tujuan itu sendiri; ia hanyalah sebuah alat. Peradaban digital berpotensi menjadi alat untuk menciptakan kehidupan yang lebih bermakna jika manusia mampu mencapai keseimbangan antara akal, hati, dan cita-cita. Namun jika tidak, ketakutan akan tersesat adalah kenyataan yang harus kita hadapi, bukan sekadar percakapan.