Politik dan Agama: Menyikapi Perkembangan Zaman
Oleh: Noris soleh
Mahasiswa Pascasarjana IAI AL-KHAIRAT Pamekasan
Hubungan antara politik dan agama telah menghadapi kesulitan baru sebagai akibat dari munculnya periode yang ditandai dengan perubahan sosial yang cepat, globalisasi, dan pertumbuhan teknologi. Di satu sisi, prinsip-prinsip moral diperlukan untuk menjalankan kekuasaan dalam politik. Namun, agama sering digambarkan sebagai realitas politik yang rumit dan tegang. Sebuah dilema mendasar muncul dalam skenario ini: bagaimana seharusnya politik dan agama berinteraksi dalam menghadapi perubahan yang begitu cepat?.
Dari sudut pandang Islam, politik dan agama bukanlah bidang yang sepenuhnya terpisah. Islam mengatur hubungan antarmanusia (ḥablum minannās), termasuk dalam bidang sosial dan politik, serta hubungan antara manusia dan Tuhan (ḥablum minallāh). Tetapi Islam juga menekankan pentingnya keadilan, integritas, dan dan akuntabilitas sebagai prinsip dasar politik. Ketika politik kehilangan prinsip-prinsip ini, pengamanan kekuasaan lebih diutamakan daripada pengejaran kebaikan bersama.
Berbagai perspektif tentang hubungan antara agama dan politik dapat ditemukan sepanjang sejarah pemikiran Islam. Al-Ghazali, seorang tokoh penting, menyatakan bahwa kekuasaan dan agama seperti kembar, dengan kekuasaan sebagai penjaga dan agama sebagai dasar. Kekuasaan akan runtuh tanpa dasar, dan agama akan berada dalam bahaya tanpa penjaga. Menurut perspektif ini, keduanya harus hidup berdampingan secara harmonis dan saling mendukung.
Agama dan politik memiliki hubungan strategis dalam pendidikan yang membentuk kesadaran publik yang penting. Selain memberikan pengetahuan, pendidikan juga bertanggung jawab untuk menumbuhkan prinsip-prinsip moral dan tanggung jawab sosial. Untuk menghindari mudah terpengaruh oleh taktik-taktik tipu daya yang sering muncul dalam hubungan kekuasaan, siswa harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang politik. Di sinilah pendidikan Islam menjadi penting, karena tidak hanya mengajarkan ritual keagamaan tetapi juga menumbuhkan integritas dan karakter.
Namun, kecenderungan yang semakin meningkat untuk mempolitisasi agama adalah masalah terburuk di era modern. Agama sering digunakan sebagai sarana untuk memecah belah masyarakat dan mendapatkan legitimasi bagi otoritas. Fenomena ini menunjukkan penyimpangan dari prinsip-prinsip inti agama, yang seharusnya mendorong harmoni dan perdamaian. Proses ini, yang seringkali kurang memiliki kedalaman spiritual, disebut “Islamisasi politik,” menurut pandangan Olivier Roy.
Namun, ada juga tren sekularisasi yang bertujuan untuk menjauhkan agama dari semua aspek kehidupan publik, termasuk politik. Strategi ini didasarkan pada kekhawatiran bahwa partisipasi agama dalam politik dapat menyebabkan perselisihan. Namun, pendekatan yang terlalu radikal berisiko menghilangkan prinsip-prinsip moral dari tindakan politik. Dalam hal ini, Abdullahi Ahmed An-Na’im menyajikan strategi yang menyoroti pentingnya prinsip-prinsip Islam dalam kehidupan publik tanpa menggunakannya sebagai alat pemaksaan politik.
Dalam hal isu-isu sosial, masyarakat kontemporer harus memutuskan apakah akan menghormati prinsip-prinsip agama atau berubah seiring waktu. Banyak budaya dan kepercayaan baru yang tidak selalu sejalan dengan prinsip-prinsip agama muncul akibat globalisasi. Hal ini dapat menyebabkan masalah identitas dan krisis nilai dalam masyarakat jika tidak ditangani dengan hati-hatiOleh karena itu, agar agama dan politik dapat hidup berdampingan secara damai, diperlukan pendekatan moderat (wasatiyyah).
Namun, penting untuk memahami bahwa sementara agama menjunjung prinsip-prinsip abadi, politik adalah bidang ijtihad yang dinamis. Oleh karena itu, mengintegrasikan agama dan politik secara proporsional adalah tantangan utama, bukan memilih di antara keduanya. Seperti yang diingatkan Nurcholish Madjid, agama seharusnya menjadi sumber moralitas dalam kehidupan bermasyarakat, bukan sebagai sarana untuk mencapai tujuan.
Membangun kesadaran politik berdasarkan cita-cita keagamaan yang inklusif dan humanistik sangatlah penting. Untuk menghasilkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, pendidikan harus menjadi garda terdepan dalam menumbuhkan pengetahuan ini. tetapi juga harus berintegritas secara moral. Selain itu, para pemimpin agama dan politik perlu mampu memimpin dengan memberi contoh dengan mengutamakan keadilan dan harmoni.
Pada akhirnya, agama dan politik harus bekerja sama untuk menanggapi keadaan kontemporer daripada saling bertentangan. Keduanya dapat memainkan peran penting dalam pengembangan masyarakat yang beradab jika politik dapat mewujudkan keadilan sosial dan agama dapat menawarkan bimbingan moral. Tetapi jika salah satunya disalahgunakan, hasilnya bukanlah kemajuan melainkan masalah yang merugikan masyarakat secara keseluruhan.