Ekspos.id, Malang, — Menjaga keamanan kampung kini tak selalu identik dengan duduk berjaga di pos ronda. Di RT 14 RW 11, Dusun Tanjung, Desa Banjararum, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, kegiatan Siskamling dikembangkan dengan memadukan kekuatan gotong royong warga dan pemanfaatan teknologi.
Inovasi tersebut mendapat perhatian dalam kunjungan penilaian Lomba PIN Siskamling Jogo Jawa Timur 2026, Sabtu (3/10/2026). Banjararum menjadi salah satu dari 10 wilayah yang berhasil masuk nominasi tingkat Jawa Timur.
Tim penilai datang langsung untuk melihat bagaimana sistem keamanan lingkungan tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sejumlah mekanisme pengamanan diperagakan dan diperiksa, mulai dari kegiatan patroli hingga sistem pemantauan berbasis teknologi.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Malang Lathifah Shohib, jajaran TNI-Polri, Muspika Singosari, pemerintah desa, Linmas serta berbagai unsur masyarakat. Sekitar 200 orang hadir dalam kegiatan tersebut.
Di Pos Siskamling RT 14 RW 11, tim penilai melihat sejumlah inovasi yang diterapkan masyarakat. Sistem patroli dilengkapi checklist berbasis barcode, sementara kegiatan jimpitan tetap menjadi bagian dari keterlibatan warga.
Keamanan lingkungan juga diperkuat dengan keberadaan CCTV dan pemantauan melalui Smart Security Center. Seluruh aktivitas patroli juga memiliki mekanisme koordinasi, identifikasi, pencatatan hingga rekapitulasi.
Dengan sistem tersebut, aktivitas Siskamling tidak hanya mengandalkan kehadiran warga pada jam tertentu. Informasi mengenai kondisi lingkungan dapat dihimpun dan dipantau sehingga koordinasi keamanan dapat dilakukan secara lebih terarah.
Meski demikian, teknologi bukan ditempatkan sebagai pengganti peran masyarakat. Justru warga tetap menjadi unsur utama dalam sistem tersebut.
Wakil Bupati Malang Lathifah Shohib mengatakan keamanan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah maupun aparat keamanan, menurutnya, membutuhkan dukungan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif.
“Siskamling dapat membangun kepedulian terhadap kondisi lingkungan, meningkatkan kewaspadaan serta memperkuat komunikasi dan kebersamaan antarwarga,” kata Lathifah.
Ia mengapresiasi masyarakat RT 14 RW 11 yang telah membangun sistem keamanan secara bersama-sama.
Menurut Lathifah, proses penilaian hendaknya tidak hanya dipandang sebagai ajang untuk mencari pemenang. Kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk mengevaluasi sistem yang telah berjalan dan mencari ruang untuk melakukan perbaikan.
“Apapun hasil dari penilaian pada hari ini, semoga dapat menjadi motivasi bagi kita semua untuk terus berbenah, meningkatkan partisipasi masyarakat serta memperkuat semangat gotong royong,” ujarnya.
Ketua Tim Penilaian dari Provinsi Jawa Timur, Dr. M. Hadi Wawan Guntoro, menjelaskan bahwa proses penilaian dilakukan berdasarkan instrumen yang telah ditetapkan.
Ia menegaskan, penilaian dilakukan secara transparan dan objektif. Namun, menurutnya, keberadaan fasilitas maupun kelengkapan administrasi bukan satu-satunya hal yang menjadi perhatian.
Kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan justru menjadi bagian penting dari keberlangsungan Siskamling.
“Yang utama adalah bagaimana kesadaran masyarakat ini sudah berjalan dengan baik. Jangan sampai penilaian menjadi tujuan,” ungkapnya.
Hadi menekankan agar kegiatan Siskamling tidak hanya terlihat ketika ada perlombaan atau penilaian. Sistem keamanan lingkungan harus benar-benar menjadi kebutuhan masyarakat dan disesuaikan dengan kondisi wilayah masing-masing.
Sebab, fasilitas yang lengkap tanpa keterlibatan warga tidak akan cukup untuk membangun sistem keamanan yang berkelanjutan.
Semangat kebersamaan juga terlihat dalam rangkaian kegiatan di Banjararum. Sebelum proses penilaian berlangsung, warga turut menampilkan musik keroncong yang kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Kehadiran berbagai unsur masyarakat menunjukkan bahwa Siskam