Divisi Riset dan Pemantau Kebijakan Publik Komunitas Jurnalis Jawa Timur (KJJT Pamekasan
Setiap kepemimpinan selalu memiliki satu momen emas, saat kepercayaan publik masih tinggi dan ruang perubahan masih terbuka. Bagi KH. Kholilurrahman, momen itu sedang berada di hadapannya: momentum untuk mengubah wajah Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pamekasan dari sekadar angka rutin menjadi mesin utama kemandirian daerah.
Pamekasan selama ini terlalu lama hidup dalam pola lama: mengandalkan dana transfer pusat, sambil membiarkan potensi lokal berjalan tanpa sistem yang kuat. Akibatnya, daerah ini seperti perahu besar dengan layar terkembang, tetapi dayungnya bocor.
Di tengah situasi fiskal nasional yang makin ketat, satu kenyataan tak bisa dihindari oleh Kabupaten Pamekasan: dana dari pusat tidak akan selamanya menjadi sandaran. Transfer pusat makin selektif, prioritas berubah, dan daerah yang tak mandiri secara fiskal akan tertinggal. Dalam konteks inilah, publik menaruh harapan besar kepada KH. Kholilurrahman untuk menghadirkan terobosan nyata dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekaligus pemangkasan ketergantungan pada bantuan pusat sudah di kurangi berkisar 200 miliar.
Satu pertanyaan besar kini mengemuka di ruang publik Pamekasan: ke mana arah terobosan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di era kepemimpinan KH. Kholilurrahman?
Meningkatkan PAD bukan soal menaikkan tarif, tetapi memperbaiki sistem. Di sinilah kepemimpinan diuji. Apakah seorang bupati berani menertibkan sektor parkir, pasar, perizinan, dan aset daerah yang selama ini menjadi “ladang gelap”? Ataukah memilih aman dengan membiarkan kebocoran terus terjadi?
KH. Kholilurrahman memiliki modal moral dan politik untuk melakukan terobosan yang tidak dimiliki semua pemimpin. Ia dipercaya publik, dihormati secara kultural, dan memiliki legitimasi kuat. Modal ini seharusnya digunakan untuk membongkar sistem lama yang tidak produktif.
PAD bukan sekadar angka dalam laporan keuangan daerah. Ia termasuk ukuran kemandirian, cermin kreativitas pemerintah, dan indikator keberanian dalam mengambil kebijakan. Daerah yang PAD-nya lemah akan selalu bergantung pada pusat, dan ketergantungan itu pada akhirnya membatasi ruang gerak pembangunan.
Selama ini Pamekasan dikenal sebagai daerah yang masih sangat bergantung pada dana transfer pusat. Ketika pusat mengetatkan anggaran, yang terdampak bukan hanya proyek infrastruktur, tapi juga layanan publik, bantuan sosial, dan program pemberdayaan rakyat.
Ketergantungan ini berbahaya karena membuat daerah tidak berdaulat. Pembangunan menjadi reaktif, bukan strategis. Pemerintah daerah hanya mengelola apa yang ada, bukan menciptakan sumber baru.
Publik tidak menilai pemimpin dari banyaknya slogan, tetapi dari sistem yang ia tinggalkan. Jika KH. Kholilurrahman mampu menata ulang sistem PAD, maka ia tidak hanya menambah pendapatan daerah, tetapi juga meninggalkan warisan tata kelola yang sehat bagi Pamekasan.
Sebaliknya, jika momentum ini terlewat, Pamekasan akan kembali terjebak dalam siklus lama: potensi besar, hasil kecil.
Kini semua mata tertuju pada satu hal: keberanian. Momentum kepemimpinan KH. Kholilurrahman adalah peluang langka untuk membuat lompatan besar. Bukan dengan janji, tetapi dengan terobosan. Dan dari situlah masa depan Pamekasan akan ditentukan.
Pamekasan Punya Potensi, dan Kaya potensi Tapi Belum Produktif
Pamekasan sering disebut sebagai jantung Madura. Letaknya strategis, aktivitas ekonominya hidup, dan masyarakatnya dikenal ulet. Namun di balik semua itu, satu ironi terus berulang: Pamekasan kaya potensi, tetapi miskin produktivitas.
Potensi hanya akan menjadi cerita jika tidak diubah menjadi nilai ekonomi. Dan di Pamekasan, terlalu banyak potensi yang berhenti sebagai wacana.
Sebagai kabupaten dengan posisi strategis di Madura, Pamekasan sesungguhnya menyimpan banyak sumber PAD: pasar rakyat, UMKM, sektor pariwisata religi dan budaya, parkir, retribusi usaha, tambang galian C, usaha mikro, hingga perizinan dan jasa. Namun potensi besar itu selama ini masih banyak yang “tidur”.
Masalahnya bukan kekurangan objek PAD, melainkan lemahnya tata kelola. Banyak sektor bocor, tidak transparan, dan kerap menjadi “lahan basah” oknum tertentu. Akibatnya, uang rakyat tidak masuk ke kas daerah, tetapi menguap di jalur-jalur gelap.
Ironisnya, pamekasan hingga saat ink belum bisa memamfaatkan peluang besar menjadi sumber PAD. Namun sebagian besar masih dikelola secara manual, tidak transparan, dan rawan kebocoran.
Inilah pekerjaan rumah besar KH. Kholilurrahman: mengubah potensi menjadi produktivitas, dan produktivitas menjadi pendapatan daerah.
Publik menunggu langkah-langkah berani: digitalisasi retribusi, penertiban parkir, audit sektor rawan bocor, serta pemutusan mata rantai yang selama ini menikmati kebocoran PAD. Tanpa keberanian ini, Pamekasan akan terus menjadi “daerah peminta”, bukan daerah penggerak ekonomi dan pendongkrak ekonomi.
Jika KH. Kholilurrahman mampu melakukan reformasi PAD, ia bukan hanya meningkatkan angka kas daerah, tetapi juga meninggalkan warisan sistem yang sehat bagi generasi berikutnya.
Tetapi yang kurang adalah sistem pengelolaan yang modern, transparan, dan profesional. Banyak sektor masih dikelola dengan cara lama: manual, tertutup, dan penuh kebocoran serta serat penuh dengan kepentingan.
Akibatnya, nilai ekonomi yang seharusnya masuk ke kas daerah justru menguap di tengah jalan. Yang kaya bukan daerah, melainkan segelintir orang yang pandai memanfaatkan celah atau oknom ASN yang ingin menperkaya diri.
Pamekasan terbiasa membanggakan potensi, tapi belum terbiasa mengukur kinerja. Kita sering mendengar istilah “daerah ini punya potensi besar”, namun jarang ada evaluasi serius: berapa yang benar-benar menghasilkan?
Tanpa indikator kinerja, tanpa target PAD yang realistis, tanpa transparansi data, potensi hanya menjadi alat pidato, dan kampaya politik saja, bukan alat pembangunan.
Momentum Kepemimpinan KH. Kholilurrahman Di Akhir Jabatannya
KH. Kholilurrahman tidak datang sebagai figur biasa. Ia membawa legitimasi moral, dukungan sosial, dan harapan besar publik. Inilah modal politik yang seharusnya digunakan untuk membongkar sistem lama yang tidak produktif.
Pemimpin yang besar bukan yang pandai menjaga keseimbangan, tetapi yang berani mengguncangnya demi perubahan.
Sosok tokoh karismatik memikul harapan besar publik. Sebagai tokoh dengan legitimasi moral yang kuat, ia memiliki modal sosial untuk melakukan reformasi yang sulit: membersihkan sistem, menata ulang pengelolaan PAD, dan menabrak kepentingan lama yang selama ini menikmati kebocoran.
Publik tidak lagi puas dengan retorika peningkatan PAD. Yang ditunggu adalah terobosan nyata:
digitalisasi parkir dan retribusi, transparansi pajak daerah, audit sektor-sektor rawan bocor, serta keberanian menertibkan mafia PAD yang selama ini bersembunyi di balik birokrasi.
Membongkar kebiasaan lama bukan berarti menciptakan kekacauan, tetapi menata ulang fondasi. Digitalisasi retribusi, penertiban aset daerah, transparansi anggaran, dan reformasi birokrasi adalah langkah-langkah yang tak bisa lagi ditunda.
Banyak daerah maju, pemerintah daerah bertindak layaknya entrepreneur: membaca peluang, mengelola aset, dan menciptakan nilai tambah. Di Pamekasan, birokrasi masih terlalu sibuk mengelola rutinitas, bukan menciptakan terobosan.
Aset daerah banyak yang menganggur. Lahan, bangunan, pasar, hingga ruang publik belum dioptimalkan sebagai sumber ekonomi.
Pamekasan tidak kekurangan sumber daya. Yang kurang adalah keberanian untuk mengubah cara lama. Jika potensi terus dibiarkan tanpa sistem yang sehat, maka daerah ini akan terus menjadi “kaya di atas kertas, miskin di kas daerah”.
Pamekasan bukan daerah miskin. Ia punya pasar yang ramai, tanah yang subur, laut yang kaya, dan masyarakat yang pekerja keras. Namun ironisnya, kekayaan itu belum pernah benar-benar terkonversi menjadi kesejahteraan publik yang merata. Masalahnya bukan pada sumber daya, tetapi pada sistem.
Daerah ini berlimpah potensi ekonomi: sektor pertanian, perikanan, UMKM, parkir, pasar, wisata religi, hingga jasa. Tetapi semua itu berjalan dalam tata kelola yang lemah, tidak transparan, dan penuh kebocoran. Akibatnya, Pendapatan Asli Daerah (PAD) stagnan, sementara beban pembangunan terus meningkat.
Di banyak sektor, kebocoran telah menjadi “rahasia umum”. Parkir tidak maksimal, retribusi pasar tidak sesuai potensi, perizinan kerap berbelit, dan aset daerah banyak yang tidak produktif. Ini bukan semata soal kurangnya aturan, melainkan lemahnya penegakan dan pengawasan.
Sistem yang buruk menciptakan ruang bagi rente dan praktik informal. Yang diuntungkan hanya segelintir, sementara daerah kehilangan miliaran rupiah yang seharusnya bisa dipakai untuk memperbaiki jalan, sekolah, dan layanan kesehatan.
Momentum tidak datang dua kali. Jika KH. Kholilurrahman berani menggunakan masa kepemimpinannya untuk memutus rantai lama dan menegakkan sistem baru yang bersih dan produktif, maka Pamekasan akan bergerak maju.
PAD Adalah Soal Keberanian, Bukan Sekadar Regulasi
Pamekasan masih terjebak dalam birokrasi yang berorientasi prosedur, bukan hasil. Laporan dibuat rapi, tetapi dampaknya minim. Program digulirkan, tetapi tidak diukur efektivitasnya.
Daerah yang maju bukan yang paling banyak rapatnya, tetapi yang paling cerdas mengelola aset dan peluang.
Selama ini, pergantian pemimpin sering hanya berganti program, bukan memperbaiki sistem. Padahal tanpa sistem yang bersih dan profesional, program sebesar apa pun akan bocor.
Yang dibutuhkan Pamekasan adalah reformasi tata kelola: digitalisasi retribusi, transparansi data PAD, audit aset daerah, dan penertiban sektor-sektor rawan penyimpangan.
Banyak daerah lain bisa melipatgandakan PAD bukan karena mereka lebih kaya, tetapi karena mereka lebih berani. Berani membuka data, berani memutus rantai rente, dan berani mengubah sistem lama yang penuh kepentingan.
Di titik inilah KH. Kholilurrahman diuji. Apakah ia akan menjadi pemimpin yang menjaga kenyamanan elite, atau pemimpin yang menabrak zona nyaman demi masa depan Pamekasan?
Pamekasan tidak kekurangan sumber. Yang ia kekurangan adalah sistem yang jujur, cerdas, dan berani. Selama sistem dibiarkan rapuh, daerah ini akan terus kaya di potensi, tetapi miskin di hasil.
Waktu Terobosan Telah Tiba
Pamekasan tidak butuh laporan yang rapi di atas kertas. Yang dibutuhkan adalah uang nyata di kas daerah yang bisa diubah menjadi jalan yang lebih baik, pelayanan yang lebih cepat, dan kesejahteraan rakyat yang lebih luas.
Publik kini menunggu. Bukan janji, tetapi terobosan. Dan sejarah akan mencatat, apakah KH. Kholilurrahman mampu menjawabnya.
