TAFSIR AYAT PUASA DAN PERISAI, MUJAHADAT AL-NAFS SELF-CONTROL

Oleh Moh Ali Muhsin rofiey Notonogoro, Ama. Spd.I. Wakil sektaris MD KAHMI Kabupaten Pamekasan

Penekanan akan pentingnya ajaran puasa sebagai kewajiban dan sebagai bagian dari ketakwaan diungkapkan dengan “ditulis” (kutiba), yang kemudian diterjemahkan dengan “diwajibkan”. Semula akar kata kaf-ta-ba (كتب) semula berarti mengumpulkan sesuatu ke sesuatu. Kemudian, kata berkembang dengan makna “kewajiban” (Q.S. al-Baqarah: 183), dan kata kitāb bermakna “hukum/aturan” (Ibn Fāris, Mu’jam Maqāyīs al-Lughah V: 158-159).

Menarik untuk diamati bahwa Q.s. al-Baqarah: 183 yang berisi perintah berpuasa berada dalam rangkaian ayat-ayat sebelumnya yang juga menggunakan redaksi “ditulis” (kutiba), kemudian di ujung masing-masing ayat dikaitkan dengan indikator ketakwaan. Lalu kemudian kebanyakan mengenali puasa di bulan suci Ramadhan itu sebagai kewajiban berdasarkan syariat Islam tanpa mengetahui seluk beluk ayat Al-Qur’an yang mewajibkan akan hal itu. Sebab kita berpuasa sudah jelas sandaran hukumnya yaitu fardlu (wajib). Ibadah puasa ini jadi istimewa karena ibadah yang hubungannya langsung dengan Allah, bahkan sejajar dengan shalat, zakat, dan haji sebagai rukun Islam. 

Dalil tentang wajibnya puasa di bulan Ramadhan berdasarkan pada ayat 183 Surat Al-Baqarah, tetapi dalam ayat tersebut tidak menggunakan lafadz فرض atau وجب tapi lafadz كتب lalu bertanya-tanya tentang lafadz tersebut, karena lafadznya juga bentuknya fiil bukan isim, bahkan masuknya jumlah khabariyah bukan insyaiyah. Kita tahu kalau insyaiyah selalu menunjukkan perintah ( أمر ) dan atau larangan ( نهي ).

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

 ’’Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.’’ (QS Al-Baqarah Ayat 183). 

Ayat 183 ini yang paling masyhur sebagai dalil (qothi’ addilalah) atas kewajiban puasa bagi kaum mukminin, dan tidak menggunakan lafadz muslimin. Ini yang menjadikan kita tergugah untuk memahaminya. Kalau kita tahu murad atau yang dimaksud Allah dari lafadz tersebut tentu kita tidak perlu cari tafsirnya. Tetapi jelas tafsir mendekatkan dan mengantarkan ke kita memahami muradnya Allah mengkhitob lafadz itu. 

Ada beberapa tafsir atas ayat itu dari berbagai kalangan mufassirin lintas madzhab, dan bagaimana tafsirnya. 

– Imam Mujtahid Muthlaq Muhammad bin Idris al-Syafi’i dalam tafsirnya  Tafsir al-Imam al-Syafi’i telah menjelaskan. 

قال الشَّافِعِي رحمه الله تعالى: قال الله تبارك وتعالى: (كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (١٨٣) الآية.

قال الشَّافِعِي رحمه الله تعالى: فافترض الله عليهم الصوم، ثم بين أنه شهر، والشهر عندهم ما بين الهلالين، وقد يكون ثلاثين، وتسعاً وعشرين.فكانت الدلالة في هذا كالدلالة في الآيتين، وكان في الآيتين قبله

Dalam kitab tafsir yang ditulisnya, Imam Syafi’i telah menjelaskan bahwa lafadz كتب itu yang dimaksud adalah افترض yaitu telah menjadi kefardluan. Sementara tafsir atas ayat ياايهاالذين آمنوا ditafsirkan sebagai البالغين و العاقلين yakni muslim yang sudah masuk baligh dan tetap dalam keadaan berakal (mukallaf). 

-Imam Ibnu Jarir al-Thobary dalam tafsirnya Jami’u al-Bayani  atau masyhur disebut Tafsir Ibnu Jarir Thobary telah menjelaskan. 

قال أبو جعفر: يعني تعالى ذكره بقوله:”يا أيها الذين آمنوا”، يا أيها الذين آمنوا بالله ورسوله وصدقوا بهما وأقرُّوا. (١)

ويعني بقوله:”كتب عليكم الصيام”، فرض عليكم الصيام. (٢)

و”الصيام” مصدر، من قول القائل:”صُمت عن كذا وكذا” -يعني: كففت عنه-“أصوم عَنه صوْمًا وصيامًا”. و معنى”الصيام”، الكف عما أمر الله بالكف عنه

Imam Abu Ja’far Ibnu Jarir al-Thobary menyatakan bahwa yang dimaksud آمنوا adalah iman kepada Allah, iman kepada Rasulullah dan mereka membenarkan sekaligus mengikrarkan keduanya. Kemudian Ibnu Jarir pun menyatakan bahwa lafadz كتب adalah فرض sedangkan lafadz الصيام dimaksudkan sebagai mencukupi apa yg jadi perintah Allah dan mencegah dari apa yang dilarangnya. 

-Imam Abu Laits al-Samarqandi dalam kitabnya Tafsir Bahrul Ulum atau masyhur dikenal dengan Tafsir Samarqandi telah menjelaskan berikut ini. 

قوله تعالى: يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيامُ، يعني فرض عليكم صيام رمضان، كَما كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ، أي فرض على الذين من قبلكم من أهل الملل كلها. لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ الأكل والشرب والجماع بعد صلاة العشاء الآخرة وبعد النوم

Imam Abu Laits menyatakan bahwa كتب adalah فرض artinya difardukan atau diwajibkan, sementara lafadz الذين من قبلكم itu adalah من أهل الملل كلها yaitu para penganut agama-agama seluruhnya sebelum Islam. Jadi syariat agama terdahulu sebelum Islam sudah ada kewajiban puasa. 

-Imam Makki bin Hammus bin Muhammad al-Andalusyi Cordova, seorang mufassir dari kalangan Madzhab Maliki dalam kitabnya al-Hidayah ilaa Bulughi al-Nihayah telah menafsirkan begini.

قوله: {يا أيها الذين آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصيام كَمَا كُتِبَ عَلَى الذين مِن قَبْلِكُمْ} إلى قوله: {إِن كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ}.

أي: فرض عليكم أن تصوموا أياماً معدودات كما كتب على الذين من قبلكم الصيام، يعني / النصارى.

Lafadz كتب ditafsir beliau فرض sedangkan lafadz من قبلكم itu ditafsiri pemeluk agama Nasrani (Kristen). 

– Syaikh Najmuddin Umar bin Muhammad al-Nasafi dari kalangan Madzhab Hanafi di dalam kitabnya  Taisir fi al-Tafsiri  telah menjelaskan. 

وقولُه تعالى: {كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ}؛ أي: فُرِضَ عليكم، والصِّيامُ والصَّومُ في اللُّغة: هو الإمساك، يُقال: صامَت الدَّابَّةُ على آريِّها (١)، إذا قامَت فلم تعتلِف، ومصامُ الفرسِ: موقفه، وقالت مريم عليها السلام: {إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا}.

Syaikh al-Nasafi ini menafsirkan lafadz كتب dengan فرض sedangkan menafsiri lafadz الصيام dengan الامساك yaitu menahan diri dengan sekuat-kuatnya. Sementara menafsiri ayat الذين  من  قبلكم menurut Syaikh al-Nasafi sebagai berikut. 

الصَّومُ على آدمَ عليه السلام أيَّام البيض، وقصَّته معروفةٌ ، وصومُ عاشوراء كان على قومِ موسى عليه السَّلام، وكان على كلِّ أمَّةٍ صومٌ

Yakni puasanya Nabi Adam yang dikenal ayyamu al-baidl, dan puasa ‘Asyura-nya kaum Nabi Musa dan seluruh umat nabi-nabi yang telah menjalankan puasa. 

-Imam Izzuddin bin Abdul Aziz bin Abdul Salam, seorang yang dikenal sultannya seluruh ulama yang bermadzhab Syafi’i telah menafsiri Surat Al-Baqarah Ayat 183 seperti di dalam kitabnya Tafsir al-‘Izzu Abdul Salam Ikhtishar ala Tafsiri al-Mawardi ” sebagai berikut.

{الصِّيَامُ} الصوم عن كل شيء الإمساك عنه، ويقال عند الظهيرة صام النهار، لإبطاء سير الشمس حتى كأنها أمسكت عنه. {كَمَا كُتِبَ} شبّه صومنا بصومهم في حكمه وصفته دون قدره، كانوا يصومون من العتمة الى العتمة  {الَّذِينَ من قَبْلِكُمْ} جميع الناس، أو اليهود، أو أهل الكتاب

Imam Izzuddin menafsirkan lafadz كتب dengan وجب atau يجب sedangkan menafsirkan lafadz من قبلكم adalah seluruh manusia sebelum diutusnya al-Musthofa Muhammad Ibnu Abdullah, Rasulillah dan kaum Yahudi dan seluruh ahli kitab (Nasrani).

Dengan demikian kita tentu telah mengenal ragam tafsir dari berbagai ulama lintas madzhab tentang tafsir ayat 183 dari Surat Al-Baqarah tersebut. Itu artinya semua sepakat bahwa lafadz كتب dimaksud adalah difardukan atau diwajibkannya puasa kepada seluruh umat Islam. Terutama yang termasuk kriteria syarat wajib puasa yang tertulis dalam Kitab Kasyifatu al-syaja yaitu Islam (muslim), mukallaf, ithaqah (kuat), shihhat (sehat); dan iqomah (mendirikan puasa selama sebulan). Dalam banyak hadits, Rasulullah saw menggambarkan puasa sebagai junnah atau perisai yang melindungi seorang Muslim dari berbagai godaan duniawi dan api neraka. Rasulullah saw bersabda: الصِّيَامُ جُنَّةٌ  Puasa adalah perisai (pelindung dari perbuatan buruk) (HR Bukhari dan Muslim). Hadits ini menegaskan bahwa puasa bukan hanya ibadah fisik, tetapi juga benteng bagi jiwa dan akhlak seorang Muslim. Ramadhan adalah waktu terbaik untuk memperkuat ketakwaan, melatih kesabaran, serta membentengi diri dari hawa nafsu dan perilaku yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Berikut beberapa manfaat berpuasa : 

1  Perisai dari Hawa Nafsu Puasa melatih seseorang untuk menahan diri dari hal-hal yang dilarang, termasuk mengendalikan amarah, menjaga lisan, dan menjauhkan diri dari perbuatan maksiat. Rasulullah saw bersabda: 

وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْف وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ، فَلْيَقُلْ : إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ  

Puasa adalah perisai. Jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka janganlah berkata kotor dan jangan bertengkar. Jika seseorang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia berkata: ‘Aku sedang berpuasa’ (HR Bukhari dan Muslim). 

Dengan menahan diri dari perkataan kasar dan tindakan emosional, puasa membantu seseorang untuk lebih tenang, sabar, dan berakhlak baik, sehingga membentuk karakter Muslim yang kuat dan berdaya tahan dalam menghadapi berbagai ujian hidup. 

2 . Perisai dari Api Neraka Puasa juga menjadi benteng yang melindungi seorang Muslim dari siksa neraka. Rasulullah saw bersabda: الصِّيَامُ جُنَّةٌ مِنَ النَّارِ، كَجُنَّةِ أَحَدِكُمْ مِنَ الْقِتَالِ  Puasa adalah perisai dari api neraka, sebagaimana perisai dalam peperangan (HR Ahmad dan An-Nasa’i). Puasa membentuk keimanan yang kokoh dan menjadi penghalang dari perbuatan dosa, yang jika dilakukan secara konsisten akan menjauhkan seseorang dari kebinasaan di akhirat. 

3 . Perisai dari Konsumsi yang Berlebihan Salah satu tantangan terbesar manusia adalah gaya hidup konsumtif dan kerakusan terhadap dunia. Puasa mengajarkan kesederhanaan dan kepuasan dengan hal yang cukup. Rasulullah saw bersabda: مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنِهِ  Tidak ada tempat yang lebih buruk untuk diisi oleh manusia selain perutnya (HR Tirmidzi). Dengan menahan diri dari makanan dan minuman sepanjang hari, seseorang belajar untuk lebih bersyukur atas nikmat yang ada, serta memahami bagaimana rasanya kelaparan yang dialami oleh orang-orang yang kurang beruntung. Puasa tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada tatanan sosial dan kesejahteraan masyarakat. 

4 . Membentuk Masyarakat yang Lebih Sabar dan Santun Ketika setiap Muslim menjalankan puasa dengan penuh kesadaran, mereka akan lebih mengutamakan kesabaran, menghindari konflik, dan memperkuat persaudaraan sesama Muslim. Ini menciptakan lingkungan yang harmonis dan penuh keberkahan.

5 . Mendorong Kepedulian terhadap Sesama Puasa mengajarkan arti berbagi dan kepedulian terhadap orang-orang yang kurang beruntung. Dalam bulan Ramadhan, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak sedekah, memberi makan orang yang berbuka, dan menolong fakir miskin. Hal ini mempererat hubungan sosial dan mengurangi kesenjangan dalam masyarakat.

6 . Mengokohkan Nilai Keislaman dalam Peradaban Sejarah membuktikan bahwa umat Islam mencapai kejayaan saat mereka menjadikan ibadah sebagai landasan utama dalam kehidupan. Ketika Ramadhan dijalankan dengan sungguh-sungguh, nilai-nilai Islam semakin kokoh dalam kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi, membentuk peradaban yang bermartabat dan berkeadilan. Ramadhan adalah waktu yang diberikan Allah sebagai sarana penyucian diri dan peningkatan spiritual. Puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga membangun ketahanan jiwa, mengendalikan nafsu, dan memperkuat keimanan. Puasa adalah perisai yang melindungi kita dari berbagai keburukan dunia dan akhirat. Namun, perisai ini hanya akan berfungsi jika kita menjalankan puasa dengan kesadaran penuh, keikhlasan, dan pengamalan yang benar. Ramadhan itu…

• Puasanya Akal

• Puasanya Ruh

• Puasanya Jiwa

• Puasanya Jasad.Dialektika puasa Ramadhan adalah proses spiritual dan mental yang mempertemukan nafsu jasmani (lapar/haus) dengan kebutuhan rohani (ketakwaan/empati), bertujuan mentransformasi individu menjadi insan bertakwa. Ini adalah dialog sakral antara manusia dan Tuhan untuk merajut kembali iman, yang membakar dosa-dosa masa lalu dan menyeimbangkan kehidupan duniawi serta ukhrawi.

Raden Bindoro Moh Ali Muhsin rofiey Notonogoro, Ama. Spd.I. 

Semoga bermanfaat. 

Billahittaufiq Wal Hidayah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *