Oleh : AS’AD
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Pj. ORMAWA IAI Al-Khairat Pamekasan Madura
Aktivis HMI IAI Al-Khairat
Ada satu momen yang jujur membongkar siapa kita sebenarnya: ketika sebuah isu butuh tenaga nyata, bukan sekadar suara. Saat itulah ruang aksi berubah drastis. Kolom komentar yang tadinya penuh amarah, mendadak sepi peserta. Grup yang tadinya ramai membagikan poster aksi, sunyi saat ditanya siapa yang siap hadir.
Fenomena ini bukan kebetulan. Di era sekarang, aktivisme makin ramai di media sosial tapi makin tumpul di lapangan. Demo diganti thread, perlawanan diganti stori, dan keberanian diukur dari jumlah “like”. Pertanyaannya sederhana tapi menusuk: kita bergerak karena takut dosa diam melihat kemungkaran, atau karena takut diasingkan dari golongan?
Pertanyaan ini penting dijawab jujur, karena jawabannya menentukan apakah gerakan yang kita bela benar-benar hidup, atau sekadar bertahan sebagai identitas sosial.
Aktivisme Estetik, Bukan Etik
Gerakan hari ini sering berhenti di simbol. Ganti foto profil, pasang twibbon, repost infografis lalu sepi. Setelah tampilan berganti, tidak ada yang berubah di lapangan. Simbol memang penting sebagai penanda sikap, tapi masalahnya simbol hari ini sering jadi pengganti perjuangan, bukan pembuka perjuangan.
Isu KEK Tembakau Madura salah satu contohnya. Banyak yang berteriak soal nasib petani, soal riba dalam sistem pembiayaan, soal tanah rakyat yang tergerus. Unggahan bertebaran, narasi keadilan agraria digaungkan di mana-mana. Tapi begitu diajak audit syariah independen, advokasi ke DPRD, atau membangun koperasi petani berbasis mudharabah, yang datang tinggal segelintir orang. Sisanya bilang “sibuk.”
Ironinya, justru di tahap inilah dampak nyata bisa lahir audit membongkar praktik curang, advokasi mengubah kebijakan, koperasi memberi petani alternatif dari jerat riba. Tapi tahap ini tidak viral, tidak instan, dan tidak memberi validasi sosial secepat sebuah unggahan.
Pertanyaannya jadi jujur: kita takut berdosa membiarkan kezaliman, atau takut dicap tidak solid oleh circle aktivis karena tidak ikut aksi?
# Golongan Lebih Suci dari Tuhan
Ini bagian yang berbahaya. Standar “aktivis yang benar” hari ini dibentuk oleh golongan, bukan oleh nilai. Kebenaran diukur dari kesetiaan pada kelompok, bukan dari kesesuaiannya dengan prinsip.
Kritik pendanaan NGO yang tidak transparan, dituduh memecah barisan. Menolak ikut aksi karena metodenya melanggar syariat, dibilang munafik. Bertanya soal arah dana donasi, dianggap tidak percaya sesama pejuang. Akhirnya banyak orang ikut berteriak supaya aman, bukan supaya benar. Takut diasingkan lebih kuat daripada takut berdosa.
Ini pola lama yang berulang di banyak gerakan sosial: solidaritas berubah jadi tekanan kelompok (groupthink), dan siapa pun yang bertanya kritis dianggap ancaman internal, bukan penjaga integritas gerakan. Padahal gerakan yang sehat justru butuh anggota yang berani bertanya, bukan yang hanya mengangguk.
Dalam bingkai ekonomi syariah, amar ma’ruf nahi munkar itu wajib tapi caranya juga harus ma’ruf. Bukan dengan fitnah, bukan dengan merusak barisan sendiri demi menjaga soliditas semu. Menegur kekeliruan di dalam gerakan bukan pengkhianatan; itu justru bentuk amanah menjaga gerakan agar tidak busuk dari dalam.
# Tumpul Karena Nyaman
Aktivisme era sekarang tumpul karena terlalu nyaman: nyaman dapat panggung, nyaman dapat tepuk tangan, nyaman dapat donasi. Padahal gerakan yang tajam itu menyakitkan, bahkan untuk diri sendiri.
Berani bilang sistem bagi hasil di KEK Tembakau masih menindas petani, berarti siap berhadapan dengan pengusaha dan pejabat. Berani bilang aktivis juga harus diaudit, berarti siap kehilangan teman. Berani menolak ajakan aksi yang caranya melanggar prinsip, berarti siap dicap pengecut oleh circle sendiri. Tapi banyak yang memilih aman: posting keras di Instagram, sambil menutup mata saat kawan sendiri makan uang haram.
Kenyamanan ini pelan-pelan mengikis fungsi asli aktivisme. Yang tadinya alat kontrol terhadap kekuasaan, berubah jadi panggung pencitraan. Yang tadinya perjuangan atas nama keadilan, berubah jadi ajang membangun personal branding sebagai “orang yang peduli.”
Itu bukan takut dosa. Itu takut miskin, takut sepi, takut tidak diajak nongkrong lagi.
# Jalan Pulang: Niat dan Ilmu
Aktivisme harus kembali ke khittahnya: niat karena Allah, bukan karena golongan. Dalam ushul fiqh dikenal kaidah “al-umuuru bimaqaashidiha” setiap perkara dinilai dari tujuannya. Kalau tujuan kita hanya ridha manusia, hasilnya cuma capek: energi habis, tapi tidak ada perubahan struktural yang tersisa.
Kedua, gerakan harus berjalan dengan ilmu. Ekonomi syariah mengajarkan maslahah dan maqasid syariah sebagai pijakan berpikir bahwa setiap perjuangan mesti diukur dari manfaat dan mudaratnya secara menyeluruh, bukan sekadar seberapa keras suaranya. Demo tanpa kajian, tanpa solusi, tanpa data, bukan jihad itu cuma ramai-ramai tanpa arah.
Niat yang lurus dan ilmu yang matang adalah dua kaki yang menopang aktivisme agar tidak roboh saat viralitas mereda. Sebab lambat atau cepat, sorotan akan pindah ke isu lain. Yang tersisa hanya mereka yang bergerak karena keyakinan, bukan karena ingin dilihat.
# Ukuran Keberanian yang Sebenarnya
Keberanian sejati tidak selalu ramai. Kadang ia justru sunyi: orang yang memilih diam dari aksi yang caranya keliru, orang yang berani menegur kawan seperjuangan sendiri, orang yang tetap konsisten mengurus koperasi petani meski tidak ada yang menyorot kameranya.
Keberanian semacam ini tidak menghasilkan pengakuan instan. Tapi justru itulah yang membedakan pejuang dari penonton yang kebetulan ikut arus.
Jadi, sebelum mengetik, tanyakan dulu ke diri sendiri: kita berteriak karena takut dosa, atau karena takut tidak dianggap aktivis? Kalau jawabannya yang kedua, mungkin kita bagian dari alasan kenapa gerakan hari ini tumpul.
Aktivisme yang tajam lahir dari orang yang berani sendirian demi kebenaran bukan yang ramai-ramai demi pembenaran.