Oleh: Tim TUMBUH 1000
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Arina Salsabila Tsabita Naja -Universitas Darussalam Gontor
Moh. Wais Al Qorni – IAI Al-Khairat Pamekasan
Indy Clarissa Dewi – SMA BPI 1 Bandung
Malaysia & Singapura – Kolaborasi tiga delegasi muda Indonesia berhasil menorehkan prestasi dalam ajang International Youth Connection (IYC) Batch 5 yang diselenggarakan di Malaysia dan Singapura pada 7-10 September 2026. Kelompok 3 yang beranggotakan Arina Salsabila Tsabita Naja, Moh. Wais Al Qorni, dan Indy Clarissa Dewi berhasil meraih penghargaan Best Project melalui inovasi kesehatan bertajuk TUMBUH 1000.
Ketiga anggota kelompok berasal dari institusi pendidikan yang berbeda. Arina Salsabila Tsabita Naja merupakan mahasiswa Universitas Darussalam Gontor, Moh. Wais Al Qorni berasal dari Institut Agam Islam (IAI) Al-Khairat Pamekasan, sedangkan Indy Clarissa Dewi merupakan siswi SMA BPI 1 Bandung. Pertemuan tiga delegasi dengan latar belakang pendidikan dan daerah berbeda tersebut kemudian berkembang menjadi kolaborasi untuk merancang solusi pada isu kesehatan ibu dan anak.
IYC Batch 5 sendiri mengangkat tema “Nourishing the Future: Strengthening Health and Human Development” yang berkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDG) poin ketiga, Good Health and Well-being. Melalui program tersebut, para delegasi didorong untuk memahami persoalan kesehatan sekaligus menghasilkan gagasan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Kelompok 3 mengangkat persoalan stunting dan kesehatan ibu dan anak. Mereka kemudian memperkenalkan TUMBUH 1000, singkatan dari Terpadu Untuk Ibu dan Anak dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan.
TUMBUH 1000 dirancang sebagai sistem intervensi berbasis risiko yang menghubungkan keluarga dengan kader Posyandu, Puskesmas, pemerintah desa, serta penyedia pangan lokal. Berbeda dari pendekatan yang memberikan intervensi secara seragam, sistem ini mengarahkan pendampingan berdasarkan tingkat risiko masing-masing keluarga.
Konsep tersebut berangkat dari pemahaman bahwa pencegahan stunting tidak cukup hanya melalui edukasi gizi. Diperlukan pula deteksi risiko sejak dini, pendampingan berkelanjutan, akses terhadap pangan bergizi, serta tindak lanjut yang sesuai dengan kebutuhan ibu dan anak.
Cara kerja TUMBUH 1000 dibangun melalui alur Detect, Classify, Intervene, dan Follow-up. Skrining dilakukan sejak calon ibu, masa kehamilan, hingga anak berusia dua tahun untuk membantu mengidentifikasi berbagai faktor risiko. Hasil skrining kemudian digunakan untuk menentukan tingkat risiko dan kebutuhan pendampingan. Bentuk intervensinya dapat berupa edukasi dan konsultasi gizi, pemantauan kehamilan dan pertumbuhan anak, pendampingan kader, dukungan pangan lokal, hingga edukasi digital.
Menariknya, gagasan tersebut tidak berhenti pada konsep. Kelompok 3 juga telah mengembangkan prototype digital TUMBUH 1000. Panel Sistem TUMBUH 1000 dikembangkan untuk mendukung proses skrining, klasifikasi risiko, pengaturan intervensi, reminder, follow-up, dan rujukan. Sementara itu, BUNDA SEHAT hadir sebagai kanal digital berbasis chatbot untuk memberikan informasi dan edukasi seputar kehamilan, kesehatan ibu, perkembangan janin, nutrisi, keluhan selama kehamilan, hingga persiapan persalinan.
Masyarakat dapat mencoba prototype yang telah dikembangkan melalui Panel Sistem TUMBUH 1000 di https://temanbundasehat.my.id, BUNDA SEHAT Telegram di https://t.me/temanbunda_bot, serta BUNDA SEHAT WhatsApp di https://wa.me/6283130317804.
Bagi ketiga delegasi, pengembangan TUMBUH 1000 membawa gagasan sederhana tetapi penting: penanganan stunting perlu semakin diarahkan pada pencegahan sejak dini, bukan hanya merespons ketika gangguan pertumbuhan telah terjadi. Karena setiap keluarga dapat memiliki faktor risiko yang berbeda, bentuk pendampingannya pun perlu lebih tepat sasaran.
Melalui integrasi teknologi dengan layanan kesehatan yang telah dekat dengan masyarakat, seperti Posyandu dan Puskesmas, TUMBUH 1000 tidak diarahkan untuk menggantikan sistem kesehatan yang sudah ada. Inovasi tersebut justru dirancang untuk memperkuat proses deteksi risiko, edukasi, pendampingan, akses pangan bergizi, dan pemantauan dalam satu pendekatan yang lebih terintegrasi.
Penghargaan Best Project IYC Batch 5 menjadi capaian bagi Arina, Wais, dan Indy sekaligus menunjukkan bahwa kolaborasi anak muda lintas institusi dapat melahirkan gagasan kesehatan yang tidak hanya dipresentasikan di forum internasional, tetapi juga mulai diwujudkan dalam bentuk prototype yang dapat digunakan.
Ke depan, TUMBUH 1000 masih memiliki ruang pengembangan lebih lanjut, terutama melalui validasi bersama tenaga kesehatan, penyempurnaan sistem, uji coba pada masyarakat, serta evaluasi dampak. Dengan pengembangan tersebut, inovasi yang bermula dari kolaborasi tiga delegasi muda ini diharapkan dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi bagi upaya pencegahan stunting serta peningkatan kesehatan ibu dan anak di Indonesia.