Oleh: Ach Zainuddin
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Mahasiswa IAI Al-Khairat
Organisasi HMI Al-Khairat
Mahasiswa baru merupakan bagian penting dalam kehidupan perguruan tinggi. Mereka tidak hanya datang untuk mengikuti perkuliahan, tetapi juga mulai mengenal lingkungan sosial, budaya kampus, serta berbagai organisasi kemahasiswaan. Dalam kondisi tersebut, mahasiswa baru sering menjadi sasaran utama berbagai organisasi untuk melakukan rekrutmen.
Secara umum, rekrutmen bukanlah sesuatu yang salah. Organisasi membutuhkan anggota baru untuk melakukan regenerasi dan melanjutkan program kerja. Di sisi lain, mahasiswa juga membutuhkan ruang untuk belajar kepemimpinan, bekerja sama, menyampaikan pendapat, dan mengembangkan kemampuan di luar ruang kelas.
Namun, persoalan muncul ketika proses rekrutmen dilakukan secara berlebihan. Mahasiswa baru yang masih berada dalam tahap mengenal lingkungan kampus terkadang menjadi objek pendekatan dari berbagai organisasi. Mereka dapat menerima banyak ajakan, promosi, bahkan tekanan untuk segera menentukan pilihan.
Di sinilah pentingnya membedakan antara rekrutmen dan eksploitasi.
Rekrutmen pada dasarnya memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengenal sebuah organisasi dan mempertimbangkan apakah organisasi tersebut sesuai dengan minat dan tujuan mereka. Sementara itu, eksploitasi terjadi ketika posisi atau kondisi mahasiswa baru dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok tanpa memperhatikan kebebasan dan kepentingan individu.
Misalnya, ketika seorang mahasiswa merasa harus bergabung karena takut mengecewakan senior, takut dikucilkan, atau merasa tidak memiliki pilihan lain. Dalam keadaan seperti itu, keputusan bergabung menjadi kurang bebas.
Padahal, mahasiswa memiliki hak untuk memilih.
Organisasi seharusnya memberikan informasi yang jelas mengenai visi, kegiatan, aturan, serta tanggung jawab anggota. Setelah itu, keputusan tetap berada di tangan mahasiswa. Tidak bergabung dengan sebuah organisasi bukan berarti mahasiswa tersebut tidak memiliki kepedulian terhadap kehidupan kampus.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah budaya senioritas. Senior memang memiliki pengalaman lebih banyak dan dapat menjadi pembimbing bagi mahasiswa baru. Namun, pengalaman tersebut seharusnya digunakan untuk memberikan arahan, bukan untuk memaksakan kehendak.
Senioritas yang sehat adalah ketika senior mampu menjadi teladan. Senior tidak perlu menunjukkan kekuasaan untuk mendapatkan penghormatan. Sebaliknya, penghormatan akan tumbuh ketika senior mampu memberikan contoh yang baik.
Selain itu, keberhasilan kaderisasi tidak seharusnya hanya dilihat dari jumlah mahasiswa baru yang berhasil direkrut. Banyaknya anggota memang dapat menunjukkan kemampuan organisasi dalam melakukan regenerasi, tetapi belum tentu menunjukkan kualitas kaderisasi.
Kaderisasi yang baik seharusnya mampu membentuk mahasiswa menjadi pribadi yang kritis, mandiri, bertanggung jawab, dan mampu bekerja sama. Anggota tidak hanya diajarkan untuk mengikuti keputusan organisasi, tetapi juga diberi ruang untuk berpikir dan menyampaikan pendapat.
Karena itu, organisasi kemahasiswaan perlu membangun proses rekrutmen yang lebih etis. Mengajak boleh, memberikan pemahaman boleh, menawarkan kegiatan juga boleh. Tetapi memaksa, menekan, atau memanfaatkan ketidaktahuan mahasiswa baru bukanlah bentuk kaderisasi yang ideal.
Perguruan tinggi pada dasarnya merupakan tempat untuk membangun kebebasan berpikir. Organisasi mahasiswa seharusnya menjadi bagian dari proses tersebut, bukan justru membatasi kebebasan mahasiswa dalam menentukan pilihan.
Pada akhirnya, mahasiswa baru bukanlah “target” yang harus diperebutkan, melainkan individu yang memiliki hak untuk menentukan jalan pengembangan dirinya sendiri.
Organisasi yang baik tidak perlu memaksa mahasiswa untuk bergabung. Cukup tunjukkan kualitas program, budaya organisasi, dan nilai yang diperjuangkan. Jika mahasiswa merasa bahwa organisasi tersebut sesuai dengan dirinya, maka ia akan bergabung atas dasar kesadaran.
Sebab, anggota yang bergabung karena tekanan mungkin hanya mengikuti organisasi, tetapi anggota yang bergabung karena kesadaran akan memahami nilai perjuangan organisasi.
Rekrutmen adalah kebutuhan organisasi. Namun, menghormati kebebasan mahasiswa adalah kewajiban moral. Di antara keduanya, organisasi yang dewasa adalah organisasi yang mampu melakukan kaderisasi tanpa kehilangan nilai kemanusiaan.