Oleh: Ulfatur Riski
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Mahasiswa pascasarjana IAI Al-Khairat Pamekasan
Pernah gasi kamu mendengar berita miring yang beredar diluar, bahwa katanya santri have no future? Pernyataan tersebut kerap muncul dalam obrolan santai ataupun komentar media sosial, hingga perbincangan diruang publik. Santri sering dipersepsikan sebagai kelompok yang tertinggal, kurang adaptatif dan tidak siap menghadapi tantangan zaman. Hal tersebut seolah menempatkan santri diluar peta masa depan modern, namun, benarkah demikian?
Diruang digital, perbincangan tentang masa depan santri semakin sering muncul. Di beberapa kanal YouTube, Tiktok dan media sosial lainnya, isu “santri tertinggal zaman” kerap diangkat, bahkan dijadikan bahan konten yang memancing pro kontra netizen. Namun, jika ditelusuri lebih jauh, realitasnya tidak sesederhana itu. Jika dibaca dari kacamata lebih luas masa depan santri justru sedang menemukan momentumnya, santri tidak hanya diajak memahami teks tetapi juga realitas. Data Kementerian Agama menunjukkan ribuan pesantren kini telah mengintegrasikan pendidikan formal, keterampilan vokasional, hingga literasi digital dalam sistem pembelajarannya. Ribuan santri yang melanjutkan studi ke perguruan tinggi, membangun usaha mandiri, konten kreator, hingga santri peneliti menjadi bukti bahwa ruang aktualisasi mereka semakin luas. Statistik terbaru menyebut bahwa Indonesia memiliki lebih dari 42.400 pesantren dengan sekitar 3,4 juta santri yang mempunyai potensi besar dalam lanskap pendidikan nasional-internasional.
Prestasi akademik semakin menonjol, seperti kegiatan internasional kolaborasi belajar antar negara yang mewakili Indonesia dalam Belt and Road Teenager Maker Camp di China satu satunya yaitu santri. Nadirsyah Hosen kini juga sukses menjadi akademisi dan intelektual Muslim di Australia. Tulisannya tentang fiqih, demokrasi, dan islam moderat dipublikasikan dijurnal internasional serta menjadi rujukan dalam diskursus keislaman global. Tidak hanya itu, santri content creator juga bukti nyata, bisa dilihat dari sosok yang bernama Kadan Sidik, Wirda Mansyur yang diundang secara khusus oleh kerajaan Arab Saudi, adapun Veve Zulkifar, sosok beliau semua berhasil menjangkau jutaan views melalui konten spiritual dan budaya Islam.
Diruang strategis yang selama ini dianggap “bukan dunia santi”. Dalam politik dan pemerintahan figur seperti Abdurrahman Wahid dan Khofifah Indar Parawansa sering dirujuk sebagai contoh bagaiamana latar pesantren dapat melahirkan pemimpin nasional dengan perspektif inklusif. Dibidang literasi global, Ahmad Fuadi membawa pengalaman santri ke pembaca internasional melalui karya yang diterjemahkan lintas bahasa. Stigma bahwa santri have no future sejatinya lahir dari standar keberhasilan yang cenderung seragam. Masa depan sering diukur melalui profesi formal, stabilitas ekonomi instan, dan pangakuan sosial cepat. Dalam kerangka ini, jalur santri yang bertahap, sunyi, dan berbasis nilai kerap dianggap tidak menjanjikan.
Padahal, banyak santri menjalani proses panjang yang tidak selalu terlihat di permukaan, mereka dibentuk dengan disiplin, ketahanan mental dan etika sosial. Modal penting yang justru relavan ditengah krisis karakter hari ini, sayangnya proses pembentukan ini jarang viral dan kalah oleh narasi instan yang lebih mudah dikomsumsi. Akibatnya, publik lebih mudah percaya pada stereotip daripada membaca konteks yang lebih utuh. disinilah letak persoalannya: masa depan santri dinilai dengan kacamata yang sempit, tanpa memahami proses dan nilai yang mereka bangun. Jika masa depan di artikan sebagai kebermanfaatn, integritas, dan kontribusi jangka panjang, maka santri bukan sedang tertinggal, melainkan sedang berjalan dengan ritme yang berbeda. Mungkin bukan santri yang tidak punya masa depan, tetapi kita yang terlalu sempit dalam mendefinisikan masa depan itu sendiri.