Sholat Idul Adha 1447H Bersama Gus Nur Di Masjid Cahaya Surga 13 Singosari Berlangsung Khidmat

Ekspos.id, Malang, Perayaan Idul Adha 1447 Hijriah di Masjid Cahaya Surga 13 berlangsung penuh kekhidmatan, Rabu (27/5/2026). Antusiasme masyarakat terlihat sejak pagi hari saat ribuan jamaah memadati masjid untuk mengikuti Salat Id bersama Gus Nur.

Padatnya jamaah membuat hampir seluruh sudut masjid dipenuhi warga. Tidak hanya ruang utama, lantai atas hingga area sekitar masjid juga dipadati jamaah yang datang untuk beribadah bersama.

Setelah pelaksanaan Salat Id, Gus Nur mengungkapkan rasa syukur karena cuaca cerah membuat ibadah berlangsung nyaman dan tertib. Ia menilai momen Idul Adha tahun ini terasa istimewa karena tingginya semangat masyarakat dalam beribadah.

“Alhamdulillah suasana pagi ini sangat mendukung. Jamaah yang hadir juga luar biasa banyak sehingga masjid penuh dari bawah sampai atas,” kata Gus Nur kepada awak media .

Dalam kesempatan itu, Gus Nur turut menyampaikan bahwa jumlah hewan kurban tahun ini mengalami penurunan dibanding tahun lalu. Jika sebelumnya terdapat 13 ekor kambing yang dikurbankan, kini jumlahnya menjadi delapan ekor.

Meski demikian, ia tetap bersyukur karena ibadah kurban masih dapat terlaksana sebagai bentuk kepedulian dan rasa syukur kepada Allah SWT. 

Gus Nur  juga menegaskan seluruh hewan kurban tersebut berasal dari biaya pribadi.

“Memang tahun ini jumlahnya berkurang, tetapi yang terpenting niat berbagi dan ibadahnya tetap berjalan. Semua menggunakan uang pribadi,” ujarnya.

Menurut Gus Nur, Idul Adha menjadi pengingat penting bagi umat Islam untuk belajar ikhlas dan tidak berlebihan mencintai kehidupan dunia. Ia menyebut ibadah kurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi juga tentang pengorbanan dan ketulusan hati.

“Idul Adha mengajarkan kita untuk membersihkan hati, memperkuat keikhlasan, dan lebih peduli kepada sesama,” tuturnya.

Saat disinggung terkait penggunaan dana negara untuk pembelian hewan kurban, Gus Nur memberikan pandangannya secara terbuka. Ia menilai penggunaan anggaran negara memang diperbolehkan secara aturan, namun menurutnya perlu dipertimbangkan dari sisi etika.

“Kalau secara hukum mungkin sah karena ada pos anggarannya. Tapi kalau sedekah memakai uang rakyat lalu dikaitkan dengan nama pribadi, menurut saya itu kurang elok,” pungkasnya. (Nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *