MABIT Di Masjid Cahaya Surga 13 Singosari, Perkuat Syukur dan Ketentraman Batin

Ekspos.id, Malang, — Ratusan jamaah dari berbagai wilayah di Jawa Timur memadati Masjid Cahaya Surga 13 dalam kegiatan Malam Bina Iman dan Takwa (MABIT) yang kembali digelar pada Sabtu malam (2/5/2026). Kegiatan rutin bulanan ini berlangsung khidmat dengan rangkaian ibadah yang dipimpin langsung oleh pengelola masjid, Sugi Nur Raharja atau yang lebih dikenal sebagai Gus Nur.

Sekitar 200 peserta mengikuti rangkaian agenda sejak malam hingga menjelang fajar, mulai dari kajian keagamaan, dzikir bersama, hingga muhasabah sebagai sarana memperkuat hubungan spiritual kepada Allah SWT.

Dalam tausiyahnya, Gus Nur menekankan bahwa rasa syukur menjadi salah satu kunci utama dalam menjalani kehidupan. Menurutnya, di tengah derasnya tuntutan dunia, manusia kerap lupa untuk berhenti sejenak dan memberi ruang bagi hati agar kembali tenang.

“Sering kali kita terlalu larut dalam urusan dunia, sampai lupa bahwa hati juga butuh istirahat. MABIT ini menjadi momentum untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengingat kembali hakikat hidup,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, MABIT bukan sekadar agenda bermalam di masjid, melainkan proses pembinaan rohani yang bertujuan memperkuat iman, meningkatkan kualitas ibadah, serta membangun ketahanan mental dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.

Gus Nur juga menjawab pertanyaan wartawan terkait kondisi generasi muda saat ini yang dinilai semakin rentan menghadapi tekanan hidup, mulai dari masalah mental, kebingungan menentukan arah hidup, hingga rasa putus asa akibat lemahnya pegangan spiritual.

Menurutnya, masjid harus mampu menjadi lebih dari sekadar tempat ibadah, tetapi juga hadir sebagai pusat pembinaan umat, ruang konsultasi, dan tempat mencari solusi atas berbagai persoalan kehidupan.

“Anak-anak muda hari ini banyak yang kehilangan ruang untuk didengar. Masjid harus bisa menjadi tempat kembali, tempat menemukan jawaban, dan tempat mendapatkan ketenangan,” tuturnya.

Dalam setiap kajian MABIT, pembahasan yang diangkat tidak hanya seputar ibadah ritual, tetapi juga persoalan kehidupan sehari-hari seperti membangun hubungan sosial, menjaga akhlak, serta menghadapi ujian hidup dengan sabar dan tawakal.

Ke depan, Gus Nur berharap Masjid Cahaya Surga 13 terus berkembang menjadi pusat kegiatan keislaman yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat, sekaligus menjadi destinasi wisata religi yang membawa manfaat luas bagi umat.

“Masjid ini terbuka untuk siapa saja. Kami ingin menjadikannya rumah bersama bagi mereka yang ingin belajar, beribadah, dan memperbaiki diri,” pungkasnya. (Nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *