Tangesan Petani Tembakau Dibalik Hujan Deras

Di tengah hamparan hijau kekuningan daun tembakau yang seharusnya membawa harapan, kini justru tersimpan air mata para petani di Kabupaten Pamekasan. Bukan air mata bahagia, melainkan air mata kecewa yang tumpah, karena janji-janji pemerintah tak lagi memberi arti.

Apalagi hujan deras melanda Madura hingga menimbulkan kekwatiran terhadap petani tembakau dengan cuaca yang tidak menentu dalam beberapa pekan terakhir membuat petani cemas. Hujan deras yang turun tiba-tiba disertai angin kencang berpotensi merusak tanaman di ladang. Petani tembakau, misalnya, khawatir daun yang seharusnya segera dipanen justru rusak sebelum sempat dijual.

Penderitaan dan kesedihan para petani tembakau ketika hasil panen mereka terancam rusak akibat cuaca ekstrem.

Masyarakat Pamekasan, khususnya petani tembakau, merasa dikhianati. Selama ini mereka digadang-gadang sebagai penopang ekonomi daerah, namun ketika harga tembakau anjlok dan pasar tidak jelas, pemerintah seakan menutup mata. Kunjungan demi kunjungan ke kantor pemerintah sudah dilakukan, suara protes sudah disampaikan, bahkan banyak berita lokal menyoroti keresahan ini. Tetapi jawaban yang datang tak lebih dari kata-kata manis, yang akhirnya berakhir jadi abu janji.

Kini, ribuan hektar sawah tembakau masih menunggu nasib. Daun-daun tembakau yang mestinya mendatangkan keuntungan, justru jadi beban di gudang. Para pedagang pun kebingungan, berdesakan mencari gudang dengan harga pantas, tapi nyaris mustahil mendapatkannya. Pemerintah seolah bermain-main dengan jerih payah masyarakat kecil, dan yang paling menyedihkan, Bupati Pamekasan yang mestinya jadi pengayom justru dianggap tak berpihak pada rakyatnya sendiri.

“Seakan kami ini anak tiri,” begitu keluh sebagian petani. Mereka merasa tak lagi dipandang, tak lagi dihargai, hanya dimanfaatkan ketika musim politik tiba. Setelah itu, tembakau yang menjadi “emas hijau” Madura kini berubah menjadi simbol kesengsaraan.

Pamekasan hari ini bagai gelap gulita. Kepercayaan pada pemerintah perlahan runtuh, suara rakyat ditelan sunyi. Padahal, petani tembakau bukanlah sekadar pencari nafkah, melainkan penjaga budaya, identitas, dan kehidupan ekonomi Madura. Namun ketika janji pemerintah tak ditepati, rakyat hanya bisa menunduk, menangis di ladang yang masih dipenuhi tembakau yang belum terbeli.

Sungguh ironis, daerah yang dijuluki gerbang salam kini justru dipenuhi jeritan masyarakat yang kecewa. Dan bagi rakyat Pamekasan, pertanyaan besar itu tetap menggantung di langit Madura: sampai kapan tembakau dan petaninya harus terus dikhianati?

Ahbib Maulana
Mahasiswa Unira

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *